Ombak pertama kami…

Tak terasa waktu begitu cepat bergulir, memaksa manusia untuk segera menghabiskan sisa usianya. Hari berganti bulan, dan pernikahan kami menginjak 3 bulan per 3 Desember 2011 lalu. Buah cinta kami pun memasuki usia kandungan 12 minggu per 7 Desember 2011 lalu. Tak kami sangka, pada minggu ke-12 inilah, bahtera kami disapa ombak. Ombak pertama kami, sepertinya. Kami lebih suka menyebutnya ombak, yang dalam kata lain bisa disetarakan dengan ujian atau cobaan dalam rumah tangga.

Apa ombak pertama kami? Adalah momen dimana bidadariku dirawat di rumah sakit untuk 3 hari, 3 malam karena kandungannya mengeluarkan flek berupa darah.

Jumat sore (2/12/11), istri sms minta ditemani malam harinya, karena sedang demam. Beda dengan kebanyakan keluarga, hari sabtu dan minggu justru saya jarang sekali pulang ke kontrakan karena pada hari-hari tersebut banyak agenda di Jakarta Timur, sehingga sangat menguras tenaga apabila harus bolak-balik ke kontrakan di Balaraja, Tangerang.

Minggu pagi (4/12/11), istri mengeluh sakit pada daerah sekitar perut. Ketika ke kamar mandi, beliau mendapati bercak-bercak darah. Kami bersegera ke klinik rujukan tempat kerja istri yang berjarak sekitar 3 km dari kontrakan. Disinilah perjuangan kami dimulai. Hasil diagnosa dokter umum klinik tersebut adalah bahwasanya untuk memastikan kondisi kandungan, kami harus mendapatkan dokter kandungan untuk di-USG. Hari minggu, tak kami jumpai dokter kandungan yang bisa memastikan bahwa kandungan istri saya baik-baik saja. Kami berkeliling ke puskesmas dan rumah sakit terdekat, namun kami belum dipertemukan dengan dokter kandungan seorang pun. Bersama mobil angkot, kami bertiga (saya, istri dan benih cinta kami) menempuh perjalanan kontrakan – klinik – rumah sakit 1 – puskesmas – rumah sakit 2 – kontrakan – rumah sakit 3 – klinik – rumah sakit 4. Saya sangat cemas saat itu. Bagaimana tidak, selama perjalanan, istri saya menahan rasa sakit karena flek darah keluar, meski sedikit. “Dinda, yang sabar ya! Istighfar! Pejuang yang hebat terlahir dari perjuangan yang hebat pula. Insya Allah dedek akan jadi pejuang yang hebat, karena perjuangan bundanya!”, bisikku menyemangati. Berbekal rujukan dari klinik, bidadariku masuk kamar inap RS An Nisa Tangerang untuk dirawat sampai ada dokter kandungan yang praktik keesokan hari. “Dedek, tunjukkan performa terbaikmu saat USG besok ya! Dedek berjuang, bundanya juga berjuang! Ok? Toss dulu dong, dek!”. Itulah kalimat yang sering saya lontarkan malam itu.

Senin pagi (5/12/11), saya dapat merasakan kegundahan seorang calon ibu. Istriku nampak gelisah dan sedikit makan. Menjelang dhuhur, istri saya dipanggil untuk di-USG karena dokter kandungan sudah ada yang praktik. Alhamdulillah, di layar alat USG, kami melihat gerak gerik jundy (tentara Allah) kami. Dokter berkata bahwa kondisi janin sangat baik, kulihat senyuman manis bidadariku mengembang. Dokter dengan suara lembut menunjukkan bagian-bagian tubuh jundy kami dengan kursor di layar monitor, “Yang kecil bergerak-gerak ini jantungnya, ini tangannya, ini kepalanya. Janinnya sudah sempurna nih, Bu! Tinggal berkembang saja!”. Kami senang sekali mendengarnya. Setelah diperiksa dan kembali ke kamar perawatan, dengan suara bersemangat istri minta tolong disuapin makan, “Kanda, dinda mau makan! Dinda mau makan banyak buat dedek! Tolong suapin dinda, ya!”. Bidadariku makan lahap sekali. “Tuh Bunda, dedek sudah menunjukkan performa terbaik. Kini giliran bundanya!”, celotehku.

Rabu pagi (7/12/11), kami tak sabar ingin segera pulang dari rumah sakit. Alhamdulillah sudah 2 hari, kandungan bidadariku tidak lagi mengeluarkan flek darah dan makin membaik. Itu berarti kami boleh segera pulang. Sebelum pulang, kami USG lagi. Kami benar-benar senang saat dokter membesarkan volume detak jantung jundy kami dari alat USG. Senyum bidadariku merekah, diikuti oleh senyumanku. Setelah menyelesaikan administrasi, kami pun pulang naik angkot. Kami selalu memilih tempat duduk di depan, dekat supir, seraya berkata, “Pak, hati-hati ya, istri saya sedang hamil”. Alhamdulillah kami hampir selalu mendapati angkot dengan supir yang baik dan sabar. Bahkan ada yang sangat pelan sekali. Terimakasih kepada para mas/bapak supir angkot yang baik hati.

Pulang dari rumah sakit bukan berarti bebas beraktifitas seperti biasa, bidadariku harus istirahat total selama 1 minggu, lalu kembali checkup seminggu kemudian. Dan karena di kontrakan hanya ada kami bertiga (saya, istri dan jundy kami yang masih dalam kandungan), maka saya sebagai suami harus merawatnya. Alhamdulillah kantor tempat saya bekerja nampak maklum atas seminggu saya tidak masuk kerja karena merawat istri.

Ini juga tak lepas dari doa dan semangat dari orang tua, saudara dan sahabat kami. Terimakasih kepada semua yang telah mendoakan kami. Semoga kejadian ini tidak terulang lagi, dan semoga jundy kami diizinkan oleh Allah untuk lahir dan menjadi pejuang dienul islam hingga tegaknya syariah dan khilafah di bumi Allah, aamiin.

Comments (18) »

Kisah kehamilan istri saya…

Hari itu, hari minggu, 9 Oktober 2011. Semenjak hari itu, senyumku terus mengembang. Siapa yang tak bahagia bila belum lama mendapatkan istri, sebentar lagi akan diamanahi buah hati. Hari itu saya mendapati kabar dari sang istri bahwa beberapa hari terakhir perutnya tak enak, sampai pada hari itu teman halqoh istri saya menyarankan untuk membeli tespek kehamilan. Dan benar sekali, istri saya terkaget-kaget ketika melihat tanda garis dobel yang segera nampak saat dites. Begitulah istri saya memberi kabar dengan berapi-api saking senangnya.

Tak kalah dengan istri, saya pun saking bahagianya hampir menceritakan hal ini kepada semua orang yang saya kenal. Saya info kabar bahagia ini kepada semua orang dengan menggunakannya sebagai status di beberapa akun jejaring sosial yang saya miliki. Beberapa teman dekat saya kabari lewat sms dan telepon. Saat liqo’ dengan teman-teman seperjuangan pun saya bercerita dengan penuh luapan senyum. Benar-benar kabar bahagia dari Allah, alhamdulillah.

Tak sabar rasanya ingin segera pulang dan memboyong bidadariku ke bidan untuk menanyakan usia kandungannya. Baru dua hari setelahnya kami berdua (bertiga dengan benih buah hati kami) berhasil menemui bu bidan yang sehari sebelumnya tak dapat ditemui karena diare. Betapa terkejutnya kami ketika bu bidan menyimpulkan bahwa usia kandungan bidadariku sedang berjalan minggu ke-5.

Seolah tak percaya, kami bertanya lagi, “Berapa minggu, Bu? Beneran, 5 minggu? Kami baru nikah tanggal 3 September 2011 kemarin, lho!” Sebagai informasi, malam itu kami ke bidan tanggal 11 Oktober 2011 (hari ke-38 pernikahan), sedang perhitungan bidan di dekat kontrakan itu usia kandungan 4 minggu 6 hari (hari ke-34 pernikahan). Sambil tersenyum, bu bidan berkata, “Itu wajar kok, Bapak dan Ibu menikah pas Ibu lagi subur-suburnya! Seminggu setelah haid kan lagi subur-suburnya! Apalagi Ibu usianya 24 kan? Itu usia wanita sedang dalam puncak kesuburan hormon! Bapak dan Ibu patut bahagia, karena bisa langsung tokcer segera diberi momongan!” Read the rest of this entry »

Comments (17) »

Banyak lirik lagunya Mbak Mayang Sari itu religius…

Apa kabar, sahabat? Setelah membaca judul postingan saya ini, apa gerangan yang ada di benak sahabat sekalian? Ketahuan deh kalau saya sering dengerin lagu-lagunya Mbak Mayang Sari, ehehe. Namun esensi yang akan saya ceritakan disini bukan masalah Mbak Mayang Sarinya, atau mempromosikan lagu-lagunya. Yang ingin saya sampaikan adalah tepat seperti judul di atas, bahwa ternyata banyak lirik lagunya Mbak Mayang Sari itu religius (dalam pandangan saya). Meski mungkin syair-syairnya menurut penyanyi dan pengarang lagunya adalah bertemakan cinta kepada orang terkasih.

Sebagai contoh, coba simak lagu beliau yang berjudul “Rasa Cintaku” berikut:


Cintaku, semakin dalam padaMu
sejak ku tahu cintaMu
Kasihku, telah Kau bawa dan tunjukkan
arti sebuah kesetiaan
Sungguh terlalu, rasa cintaku padaMu
tak ingin lagi yang lain

Jangan ada kata, kata berpisah
Jangan, jangan, aku takut mendengar
Ku ingin selalu, selamanya denganMu

Hatiku, diselimuti cintaMu
menghangatkan jiwaku
Sungguh terlalu, rasa cintaku padaMu
tak ingin lagi yang lain

Jangan ada kata, kata berpisah
Jangan, jangan, aku takut mendengar
Ku ingin selalu, selamanya denganMu

Hanya Engkau saja, satu-satunya
tempatku bersandar di dalam dunia
Hanya padaMu kuserahkan cintaku

download versi mp3 di sini

Tuh kan sahabat! Begitu totalitasnya kecintaan dan kepasrahan seorang hamba kepada Rabbnya tercermin dalam syair tersebut! Hanya kepada Allah lah cintanya bersandar, dan begitu takut berpisah dengan Allah. Sungguh mantap keimanan seorang hamba kepada Sang Penciptanya. Subhanallah!

Tak hanya itu, sahabat! Ada lagi lagu Mbak Mayang yang begitu pasrah kepada Allah Azza wa Jalla dalam syair lagunya berjudul “Sudah Tak Ada” berikut ini:


Sudah tak ada, sudah tak ada lagi
cinta yang lain dalam hatiku
Sudah tak mungkin, sudah tak mungkin lagi
aku berpaling dari cintaMu
Tiada berbatas waktu
cintaku kepadaMu

Kuingin selamanya bersama denganMu
Kuingin selamanya di sisiMu
Kuingin selamanya dalam pelukanMu
Kuingin selamanya milikMu

download versi mp3 di sini

Benar-benar ketundukan seorang hamba. Selamanya hanya ingin bersama Tuhannya, hanya ingin berada di sisi Penciptanya, dan dalam pelukan Rabbnya. Subhanallah! Jadi, apakah patut dua buah lagu yang dinyanyikan oleh Mbak Mayang Sari ini masuk dalam kategori lagu religi? Sudah tentu masuk dong!

Comments (4) »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.