Pengalaman

Perjalanan ke timur…

Perjalanan kali ini, harus kulalui tanpa mengeluh. Mengantongi restu dan doa dari rekan-rekan sekantor, aku pun melangkah pergi meninggalkan kantor menuju stasiun pasar minggu lama dengan angkot 61. Sampai di stasiun pasar minggu lama, tiket kereta Rp. 1000,- kubeli menuju stasiun manggarai. Empat stasiun terlalui, di stasiun ke-5, sampailah diriku di stasiun Manggarai. Dengan penuh harap mendapat tiket bernomor kursi, aku berjalan ke loket. Uang Rp. 50.000,- lepas di tangan bapak penjual tiket, aku pun dapat tiket kereta brantas kelas ekonomi tujuan akhir stasiun Kediri, namun tertulis jelas “Tiket Berdiri”.

Kaget? Sama sekali tidak. Sepertinya semangat pulang kali ini mengalahkan pikiran tak tenang karena tak dapat nomor tempat duduk di dalam kereta.

Kereta datang dengan keadaan cukup penumpang (penuh maksudnya). Dengan seenaknya, aku menduduki kursi kosong. Kereta jalan.

Baru jalan 1 stasiun saja, penggusuran dimulai. Kursi kosong yang kududuki tlah termiliki sekarang. Sepasang suami istri dengan 1 anak usia 1 tahun telah menggusurku dengan terpaksa. Aku pun menyegerakan mengambil tempat yang sekiranya enak untuk dibuat berdiri dan lantainya enak untuk diduduki.

Petang menjelang. Kaki pun lelah berdiri. Saatnya duduk teman-teman. Ingat, kau tidak sendiri. Benar, aku tak sendiri. Ada banyak teman yang sepadan dengan dirimu. Duduk di bawah beralas koran, bersenda gurau dengan penumpang lain, kepala yang sejajar dengan pantat para pedagang asongan, kaki yang berkali-kali diinjak sendal-sepatu bahkan high heel, kesemutan karena tidak bisa leluasa meluruskan kaki, dst.

Semangat pulang dan rasa kangen selama 4 bulan tidak pulang lagi-lagi menekan rasa sebal atas kenyamanan perjalanan kali ini. Memang hari-hari libur idul adha sekarang, karena itu tak aneh lagi jika jumlah penumpang di dalam kereta setara dengan jumlah penduduk satu desa.

Rasa senang dan haru pun merasuk ketika duduk berhadapan dengan  seorang nenek yang saat itu sama-sama duduk di bawah dan beralas koran. Nenek itu bersama sang suami tercinta. Membawa beberapa hasil panen kebun belakang rumah, yakni pete dan kawan-kawan. Perasaan sangat haru begitu menyentuh sangat kentara ketika sang nenek membagi biskuit roma kelapa yang sudah tak berbentuk kepada diriku. Maklum, karena cukup penumpang (sangat) dan berdesakan, sehingga menghasilkan beberapa besar biskuit nenek yang sudah tak berbentuk. Nikmat biskuit saat itu mengalahkan rasa burger di mcdonald (padahal belum pernah ngerasain, ehehe).

Sungguh berbagai suasana keceriaan dan senasib sepenanggungan bersama para perantau yang melakukan perjalanan ke kampung halaman saat itu sangat menyatu. Haru, semangat, bahagia, rindu, begitu terasa. Begitu indah menurutku. Apalagi ditemani nenek yang membuat hatiku luluh. Saat beliau makan bekalnya, berbagi sebotol teh yang dibawa dari rumah dengan sang kakek, tidur begitu nyenyak di tengah kepengapan penumpang, sungguh membuatku mengerti akan nikmatnya hidup. Entah kenapa aku merasa sangat bahagia melihatnya dan begitu dekat dengan beliau.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s