Kalbu

Mari bertengkar…

Sahabat, apakah Anda pernah bertengkar? Coba tanyakan kepada siapa saja, apakah dia pernah bertengkar? Jika tidak, maka ada dua kemungkinan, dia memang belum berkeluarga, atau dia sedang berdusta.

Sebenarnya bertengkar adalah suatu bentuk diskusi. Diskusi yang dihantarkan dalam luapan emosi yang tinggi. Dan bertengkar sangat berguna jika kita menuruti aturan-aturan dalam bertengkar. Perkataan dalam suatu pertengkaran adalah perkataan yang mengandung arti yang sangat dalam, yang keluar dalam desakan energi yang besar.

Lalu aturan-aturan apa yang harus kita taati ketika sedang bertengkar?

Memorandum of Understanding (MOU) dalam bertengkar adalah:

Tidak boleh berjamaah,
Dalam bertengkar, hanya ada satu orang yang berhak bicara, sedang yang lain harus diam dan mendengar.

Yang terlambat harap antre,
Bagi siapa yang terlambat mengirim sinyal marah, maka tidak diperkenankan untuk menyela. Yang terlambat harus menunggu sampai yang satu reda.

Jika ingin menanggapi, berkatalah “Stop!”,
Bila ingin segera menanggapi dan dirasa tepat waktu, berkatalah “Stop! Kini giliranku!” Sebab dalam bertengkar, pantang untuk berjamaah. Jangan lupa, ketika akan mengungkapkan pendapat, bacalah istighfar dalam hati, kemudian lanjutkan dengan kata-kata yang manis, seperti, “Dik, kalau marah kau tambah cantik! Bicaralah terus agar kau merasa lega.” Ungkapkan dengan tanpa emosi. Karena dengan begitu, kau telah beramal sholeh dengan menjadi jalan tersalurkannya emosi lawan bicara.

Jangan membawa kesalahan masa lalu,
Hal yang sangat penting dalam bertengkar adalah jangan membawa-bawa masalah atau kesalahan di masa lalu, karena hal itu akan membuat lawan bicara merasa terpojok. Hal ini hanya akan menghancurkan harapan serta membuat lawan bicara putus asa. Marahlah hanya untuk kesalahan saat ini, dan jangan sekali-kali membawa keluarga.

Jangan bertengkar di depan anak-anak,
Ingat, jangan sekali-kali bertengkar di hadapan anak-anak. Anak bukanlah buah dari kemarahan kita. Mereka tidak lahir dalam kemarahan. Bagi anak, melihat ayah dan ibu mereka bertengkar adalah suatu kebingungan. Mereka bingung, harus membela yang mana. Bingung untuk memihak siapa. Apakah membela ibu? Tapi ayah kan juga ayahku! Karena itu, kita harus berhenti marah ketika anak datang. Tatap matanya, “Haruskah dia mendengar kemarahan kita?” Tidak!

Sahabat, sebenarnya bertengkar adalah suatu pembelajaran. Kemarahan dalam bertengkar adalah sarana belajar untuk mencintai lebih inten kepada orang yang kita cintai. Bertengkar itu indah, karena itu, “Mari bertengkar!”

(sumber: RAS FM Jakarta)

8 thoughts on “Mari bertengkar…

  1. Maksudnya apa nih? ngajakin berantem ya? hmmm….pantes tiap hari lo ngatain gw pasti mo ngajakin berantem ya? Hei….tulang tidak seharusnya kmu ngajakin orang berantem, apalagi di jaman kayak gini, justru kita harus menaburkan benih-benih perdamaian.

  2. @coronoa: tuh mulut emang ndak bisa bedain mana yang benar dan mana yang salah, makanya diambil positifnya, baru baca judulnya udah komentar :p
    yang ngajakin berantem tuh kamu, dasar..
    tp mksh komentarnya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s