Kalbu

Nasi sudah menjadi bubur ayam…

Sahabat, istilah “Nasi sudah menjadi bubur” janganlah menjadikan kita untuk tidak memperbaiki suatu keterlanjuran. Mudah-mudahan dengan kisah berikut, merubah pikiran kita untuk tidak menyalahkan suatu keterlanjuran. Berikut kisahnya.


Seorang mahasiswa mengalami studi yang kacau. Tidak serius dalam kuliahnya. Kadang masuk, kadang tidak. SKS begitu banyak membebani, karena ia sering tidak masuk dan jarang belajar. Kalaupun masuk, ia pun tidak serius dalam mengikuti mata kuliah itu.

Seorang temannya mulai terbesit untuk bertanya, apa yang terjadi dengan sohibnya itu.

Teman yang perhatian: “Sob, gerangan apa yang terjadi denganmu? Kuliahmu nampak berat. Kenapa? Ada apa?”

Mahasiswa itu pun mengaku, ternyata dia terjebak masuk ke jurusan yang tidak diinginkannya. Dia terjebak karena dulu, dia hanya ikut-ikutan saja.

Teman yang perhatian: “Kenapa kau tak pindah jurusan saja?”
Mahasiswa: Sudahlah, nasi sudah menjadi bubur!”
Teman yang perhatian: “Akankah kamu tetap seperti ini? Jika kamu pindah jurusan, kau kan bisa mulai dari awal lagi!”
Mahasiswa: “Sudahlah, nasi sudah menjadi bubur! Mana bisa diperbaiki lagi, sudah terlambat!”

Temannya nampak bingung. Bingung melihat temannya yang tak punya semangat lagi. Tiba-tiba teringatlah dia kepada teman lamanya yang dulu pernah memiliki masalah semacam ini, yakni salah masuk jurusan. Dia pun menelpon teman lamanya itu. Dia bertanya bagaimana cara keluar dari permasalahan itu.

Teman yang perhatian: “Sob, dulu kau pernah bilang kalau kau sempat salah masuk jurusan bukan?”
Teman yang ditelepon: “Benar.”
Teman yang perhatian: “Tapi sekarang kau nampak bersemangat, resepnya apa?”
Teman yang ditelepon: “Oh, mulanya aku memang tak bersemangat. Tapi kelamaan, aku sempat berpikir, menyesali yang telah terjadi tidak akan membalikkan keadaan. Lalu aku mulai bangkit. Pertama, aku merelakan apa yang sudah Allah berikan kepadaku. Yang kedua, aku berpikir, bagaimana cara menggabungkan hobi dengan jurusan yang aku ikuti supaya aku menjadi enjoy akan apa yang aku dapat. Memang sih, nasi sudah menjadi bubur, tapi kini, nasi sudah menjadi bubur ayam spesial dengan rasa yang lezat dan lebih berharga daripada nasi. Aku tambahkan saja ayam, selada, garam, merica, bawang dan kerupuk sehingga bubur yang semula hambar menjadi bubur yang lezat dan mahal.”


Demikianlah sahabat, suatu keterlanjuran janganlah menenggelamkan diri kita. Justru dengan keterlanjuran itu, kita diberi kesempatan untuk melangkah dan mengolah keterlanjuran tersebut menuju sukses di masa mendatang.

(sumber: RAS FM Jakarta)

6 thoughts on “Nasi sudah menjadi bubur ayam…

  1. so good……
    bener banget kalo udah jadi bubur tinggal cari pelengkapnya aje
    pengalaman kayake cin…..
    hem……tapi tetep kan usahakan yang terbaik aje…oke

  2. @kang atep: inspirasi yang saya cuplik dari radio Islam terkenal Jakarta, RAS FM
    senang bisa berbagi, semoga bermanfaat!

    nb: link blog Anda sudah terpasang di daftar rekanan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s