Pengalaman

Cikakung…

Cikakung, begitulah aku menyebut kakekku. Kakekku satu-satunya yang kini telah tiada. Hari itu bergemuruh. Hati ini tak tenang. Jumat sore, di angkot 61 (jurusan Pasar Minggu – Cinere) sekitar pukul 16.30 aku mendapat berita duka dari si mbok di rumah. Sambil menangis, si mbok berkata bahwa cikakung telah meninggal. Innalillahi…

Hati berkata, “Ayo pulang!” Dompet berkata, “Aku tak sanggup!” Sampai di kantor, segera ku minta pendapat ibu accounting. Beliau dengan bijak menasehatiku untuk segera pulang. Beliau beserta rekan-rekan yang lain sangat berbaik hati padaku. Mulai dari memilihkan sarana transportasi untukku pulang, sampai bekal snack dan air minum pun mereka siapkan. Akhirnya aku mengambil keputusan yang besar. Aku pulang!

Hari semakin petang, hujan pun menyapa dengan lembut. Aku berangkat menuju halte busway Ragunan. Dari sinilah, banyak pengalaman baru kualami. Baru pertama kali ini aku naik busway. Padahal sudah hampir 8 bulan di Jakarta, ahaha, cukup memalukan. Berbekal pesan dari rekan-rekan di kantor, dan uang gaji yang diberikan di awal, aku berani melangkah maju. Perjalanan yang cukup panjang menurutku. Dari kantor ke stasiun Gambir saja, harus over bus 3 kali. Dari Ragunan-Dukuh Atas, jalur ke kota Dukuh Atas-Harmoni, jalur pulogadung Harmoni-Gambir.

Sampai di stasiun Gambir, segera menuju papan jadwal keberangkatan, dengan perasaan heran, karena jujur, aku baru pertama kali ke stasiun Gambir, ahaha, satu lagi hal memalukan. Akhirnya tanpa pikir panjang, aku menyerahkan 3 lembar pecahan seratus ribu rupiah dan 2 lembar pecahan sepuluh ribu rupiah, tiket Argoanggrek pun kuterima. Ternyata kali ini, harga tiket naik sampai seratus ribu rupiah.

Kereta berangkat pukul 21.30, padahal aku sudah ada disana kira-kira jam delapan lewat. Tanpa memberitahu si mbok, dengan mantap kunikmati perjalanan yang asing bagiku. Ini kali pertama aku naik kereta eksekutif, ahaha, lagi-lagi hal yang memalukan.

Di dalam kereta, aku mendapat teman duduk yang bersebelahan, seorang ibu yang begitu mesra saat berpisah dengan sang suami di stasiun. Setelah kuselidiki, wanita tersebut berasal dari Probolinggo, Jawa Timur, berbuntut tiga dengan satu suami. Suami seorang dosen yang beliau sendiri tak tahu mengajar dimana. Tapi yang jelas anak pertama beliau seorang wanita kira-kira seusia denganku, saat ini kuliah di Brawijaya Malang lulusan SMK Taruna. Kami mengobrol asyik, karena kami memiliki banyak kesamaan, yakni sama-sama sendiri, sama-sama baru pertama naik kereta tsb, sama-sama belum pernah tahu tujuan kita nanti (dari stasiun akhir lalu kemana, naik apa dsb) dan sama-sama belum kenal.

Aku tersentak ketika beliau melontarkan pertanyaan yang membuatku terkaget-kaget;
Ibu itu: “Biasanya pergi ke gereja mana?”
Aku: …tercengang
Ibu itu: …
Aku: “Memangnya saya punya wajah-wajah ke gereja ya?”
Ibu itu: “Oh, saya kan tanya aja, barang kali aja situ ke gereja!”
Aku: “Ndak kok Bu, saya muslim, saya ke masjid aja.”

AC di kereta itu semakin menusuk ke tulang. Ketika roti dari kereta dibagikan, langsung kuhabiskan dengan lahap. Kudapati semut di bungkus roti, namun aku cuek dan langsung mengoyak-koyak roti itu. Tak berapa lama, bibir atas sebelah kiriku gatal. Perasaanku tak nyaman. Sepertinya aku kena gigitan semut nakal. Dalam hati aku berkata, “Tahu aja nih semut barang yang manis-manis!” Ehehe…

Penderitaanku tidak cukup sampai disini, setelah semalaman menahan gatal di bibir, paginya aku mendapati bagian bibir yang gatal tsb membengkak. Saat ke toilet, aku menginjak sesuatu yang tidak diinginkan. Sebelumnya, ada seorang kakek yang keluar dari toilet dengan wajah masam. Mungkin karena sesuatu yang tidak diinginkan-nya jatuh tidak pada tempatnya, akhirnya beliau bersegera meninggalkan toilet. Ya, karena sudah begini, mau diapain lagi. Alhasil, pagi-pagi udah ngebersihin tuh toilet dari sesuatu yang tidak diinginkan. Dengan menahan aroma sesuatu yang tidak diinginkan, aku pun hampir muntah. Sungguh pagi yang luar biasa.

Kereta sampai di stasiun Pasar Turi, Surabaya kira-kira pukul delapan pagi. Dan lagi-lagi, untuk pertama kalinya, aku terhempas sampai disini. Biasanya aku pulang naek kereta ekonomi yang langsung ke Kediri. Namun, karena kemarin kemalaman, jadinya naek kereta ke Surabaya deh. Untung ada ibu yang di kereta tadi. Aku dan ibu tadi dipandu via telepon oleh suami beliau.

Kami pun naek becak berdua ke arah perempatan pasar besar dengan biaya enam ribu rupiah. Kami pun berpisah sampai disini, sebab beliau menunggu jemputan saudaranya yang ada di Surabaya, sedang aku, harus segera sampai ke rumah. Akupun naek bus kota ke terminal Bungurasih, Surabaya.

Di bus kota, lagi-lagi dapet temen. Ada mbak-mbak juga pergi ke Kediri. Yeah! Namun, temen kali ini agak pendiam, namun aku suka karena pribadinya yang alami, khas pedesaan. Kami pun sepakat untuk naik bus yang sama. Kami naik bus Harapan Jaya, pake AC. Dan lagi-lagi, ini pertama kalinya aku naik bus dari Surabaya ke Kediri, ahaha, memalukan.

Di dalam bus, kami tidak duduk bersebelahan, karena kursi yang tersisa tidak ada yang bersebelahan. Aku duduk di sebelah mas-mas. Aku mencoba mengajak bicara, dan ternyata sama, mas itu mau ke Kediri juga. Dapet temen lagi deh. Ku selidiki, mas itu asli Surabaya, namun sudah 4 tahun terakhir tinggal di Bali. Dan beliau ke Kediri bermaksud untuk jalan-jalan dengan kawan lamanya yang dinas di Kediri. Usianya 32, udah punya buntut dan suka petualang.

Jam menunjukkan pukul satu siang. Akhirnya diri ini sampai juga di rumah tercinta. Banyak saudara yang berkumpul di rumah, karena memang rumah kakek berada di belakang rumahku. Banyak hal yang membuatku berkesan terhadap cikakung. Aku ingat ketika sekolah dasar, selama dua tahun aku diantar jemput oleh cikakung dengan menggunakan sepeda kesayangannya. Pernah suatu kali aku dijemput dengan sepeda balap. Entah karena aku ceroboh atau masih kecil, kakiku sempat terselip di roda depan yang saat itu tepat di turunan jalan kereta api. Kami pun jatuh tersungkup. Aku baik-baik saja, namun cikakung tidak. Tangan dan kakinya terluka, hidungnya berkurang. Namun hal yang dikhawatirkan oleh cikakung adalah keselamatanku. Sampai saat ini aku masih ingat dengan jelas peristiwa 12 tahun yang lalu.

Karena kecintaan cikakung padaku dari kecil itulah yang mendorongku untuk pulang. Aku senang karena bisa mengunjungi pekuburan cikakung dan membacakan surat yasin untuknya. Aku berharap, cikakung terhindar dari siksa kubur dan diterima segala amal perbuatannya, amien…

Advertisements

7 thoughts on “Cikakung…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s