Pengalaman

JEF sesi tanya jawab…

Baik, langsung saja aku lanjutkan mengenai seminar JEF-nya. Pada waktu itu cukup banyak pertanyaan yang terlontar, antara lain sbb:

  1. Sumadi, D3 di Malang;
    • Bapak Richard asli Indonesia?
      Ya, beliau asli dari Menteng, Jakarta
    • Apa investasi Jepang di Indonesia?
      Karena saat ini lingkupnya adalah pendidikan, maka nara sumber membahas investasi di bidang pendidikan. Yaitu memudahkan penjamin visa bila ada pelajar Indonesia yang ingin studi di Jepang. Penjamin bisa berupa universitas yang akan menjadi tempat belajarnya. Semua ini akan berujung kepada tingkat kunjungan warga asing ke Jepang, khususnya Indonesia.
  2. Marki, Jakarta;
    • Apakah ada beasiswa yang diberikan di tahun pertama oleh Jepang?
      Sebelumnya mohon maaf, bahwa beasiswa yang diberikan oleh Jepang, dalam hal ini industri-industri Jepang hanya diberikan di tahun kedua. Beasiswa tahun kedua tersebut bisa didapat di universitas di Jepang, karena banyak sekali pengumuman-pengumuman beasiswa yang ditempel di universitas, dan sifatnya tidak mengikat meski pelajar tersebut sudah lulus. Banyak sekali industri Jepang yang mengadakan beasiswa karena beasiswa dapat digunakan untuk mengurangi pajak perusahaan. Kalaupun ada beasiswa di tahun pertama, itu hanya diberikan oleh personil dan Depdiknas, yang terkenal saat ini adalah beasiswa Monbukogakusho.
  3. Ibza, Jakarta;
    • Apakah ada sekolah pariwisata dan bahasa di Jepang yang membolehkan pelajarnya untuk tidak meninggalkan sekolah utamanya di Indonesia?
      Untuk saat ini tidak ada, karena untuk bisa studi di Jepang, maka modal utama adalah belajar bahasa Jepang, yang kedua adalah niat. Tanpa niat, tidak akan berhasil. Dan hal itu akan sangat sulit dilakukan bila tidak langsung di Jepang.
  4. Desya, studi Akuntansi di Jakarta;
    • Bagaimana dengan pendidikan program akuntansi ekonomi di Jepang?
      Pendidikan akuntansi di Jepang memang ada untuk akuntansi ekonomi, namun yang perlu diketahui bahwa Jepang lebih fokus terhadap teknologi, robot, bioteknologi dan art (anime, manga)
  5. Fakhri, UI;
    • Informasi dari kakak saya yang saat ini bekerja di Jepang, bahwasanya profesor-profesor di Jepang sangat tertutup. Apa saja tips-tips untuk mendapatkan link dengan profesor Jepang?
      Jelas, hal yang pertama dilakukan adalah kenalan (shoka). Sedikit informasi bahwa orang-orang gampang sekali keluar dari universitas di Jepang, namun susah sekali masuk. Ini bukan soal uang. Jepang tidak memiliki sifat individualistik. Moto orang Jepang adalah Looking to the future, bukan Hit and run seperti kebanyakan orang barat. Itulah sebabnya, berbisnis dengan orang Jepang tidak segampang berbisnis dengan orang barat. Jika Jepang ingin melakukan investasi, maka Jepang akan sangat bertanggung jawab. Jepang melihat prospek ke depan. Kembali ke pertanyaan, bagaimana mencari kenalan dengan profesor atau guru (sensei) bisa dilakukan dengan:

      1. searching dan research yang bisa dilakukan melalui internet
      2. setelah menemukan, maka kenalan lebih lanjut untuk membicarakan soal penelitian yang akan dilakukan
      3. untuk mengatasi problem, maka dianjurkan untuk mencari lebih dari satu sensei
  6. xxx;
    • Bagaimana cara transfer pelajar dari Indonesia ke Jepang?
      Agak sulit memang, saran dari narasumber adalah silakan selesaikan dulu studinya di Indonesia, baru kemudian lanjut ke Japang. Kalaupun memang mata kuliahnya sama, akan sangat sulit mengikuti dengan metode dan bahasa yang berbeda.
  7. Ika, sedang menyelesaikan S1 di Jakarta dan menginginkan S2 di Jepang;
    • Bagaimana dengan rumor situasi pendidikan Jepang yang berujung stres?
      Memang kehidupan di Jepang boleh dikatakan berat, karena biaya hidup di Jepang tidak murah. Survey mengatakan bahwa 100 pelajar di Jepang bunuh diri setiap hari. Karena itu, siapkan dirimu. Berfokuslah 100% untuk belajar. Memang orang di Jepang ditantang oleh keadaan yang sulit. Sebagai tambahan bahwa pendidikan S2 di Jepang adalah fokus untuk penelitian. Namun jangan khawatir, karena guru akan mengarahkan, bukan menekankan bagaimana menyelesaikan hal tersebut.
  8. Mutia, siswi SMP 19 Jakarta;
    • Adakah beasiswa untuk SMA?
      Sebelumnya narasumber meminta maaf, bahwa beasiswa untuk SMA tidak ada. Kalaupun ada mungkin program pendek, itu pun hanya seminggu. Untuk program panjang tidak ada.
  9. Zulfahmi;
    • Bagaimanakah kontak Pandan College dengan universitas di Jepang?
      Sebagai informasi, Pandan College adalah sekolah bahasa Jepang yang ada di Bali, yang sekaligus sebagai penyelenggara seminar JEF kali ini. Peran yang utama adalah pembekalan basik atau dasar yakni bahasa.
    • Apakah ada sistem pinjaman bagi pelajar yang ingin studi di Jepang namun tidak sanggup membiayai?
      Untuk saat ini tidak ada program pinjaman seperti itu.
  10. Zulham, studi di UI jurusan biologi;
    • Apakah ada double degree untuk studi jenjang S2?
      Sebetulnya ada juga pencapaian double degree, namun sekedar informasi bahwa jenjang S2 di Jepang cukup berat. Karena ada research yang memang sulit yang diselenggarakan antar pemerintah. Untuk bidang biologi memang ada.
  11. Ibu xxx, guru;
    • Apakah ada training tertentu untuk pengajar?
      Kesempatan itu ada, dan setiap tahun ada sekitar 20 pengajar yang dikirim ke Jepang untuk training. Yang penting adalah mencari informasi kepada Depdiknas, sebab kegiatan ini bekerjasama dengan Depsiknas. Untuk training selama setahun silakan apply di kedutaan besar Jepang (periode November – Januari).
  12. Vera;
    • Ketika di Jepang, bagaimana nasib kita ketika sakit?
      Sudah narasumber wanti-wanti, bahwa sebelum ke Jepang, haruslah ada penjamin atau penanggung jawab (sokai), minimal universitas ataupun lembaga pendidikan yang turut mengantarkan kita ke Jepang. Tentu harus diikut sertakan asuransi kesehatan dari Indonesia. Tanpa asuransi, sangat berat untuk berobat di Jepang. Uang senilai Rp 500.000,- di Jepang bila digunakan berobat, kita hanya dilihat saja, selesai.
  13. Gadang, penerima beasiswa Monbuko gakusho tahun ini;
    • Apakah setiap universitas di Jepang memiliki program ekstra kulikuler untuk peningkatan kualitas bahasa Jepang kita?
      Sebetulnya improving bahasa Jepang dari Monbuko sudah ada, tergantung kita sendiri dan jangan bersantai-santai. Di Jepang sendiri ada perkumpulan atau tempat khusus untuk belajar bahasa Jepang untuk pelajar asing.
    • Apa saja yang perlu dipersiapkan untuk pendataan kependudukan kita di Jepang?
      Yang perlu dipersiapkan adalah visa pelajar dan passport. Bawa ke wali kota terdekat di Jepang nanti untuk dibuatkan KTP sementara. Proses pembuatannya hanya 30 menit, tidak lama. KTP sementara digunakan sebagai simpel keterangan kependudukan.
  14. Dewi, Jakarta;
    • Kiat-kiat apa saja yang perlu dilakukan agar cepat mahir berbahasa Jepang?
      Sekali lagi tergantung manusianya. Agar cepat mahir, maka kuncinya adalah jangan malu, terus berlatih, dan alangkah baiknya berlatih langsung dengan orang Jepang.
  15. Ardo, teknik sipil semester 7 di Jakarta;
    • Bagaimana mengetahui universitas terbaik jurusan sipil di Jepang?
      Sudah menjadi budaya di Jepang, bahwa budaya merendah sudah menjadi warisan. Di Jepang sendiri tidak ada grade-grade tingkatan universitas. Yang ada hanyalah nilai baik dan tidaknya universitas tersebut, dan itu bisa ditanyakan kepada masyarakat sekitar.

Hmm. Aku perhatikan panjang juga ya postingannya, hehe. Biar keliatan ada gambar-gambarnya, berikut snapshoot situasi saat itu:

(1) Salah satu stand sekolah Jepang (2) Suasana menjelang cosplay
(1) Salah satu stand sekolah Jepang (2) Suasana menjelang cosplay

(3) Gantungan pemberian salah satu stand (4) Tanda peserta seminar
(3) Gantungan pemberian salah satu stand (4) Tanda peserta seminar

Semoga bermanfaat, terimakasih atas kesediaannya membaca sampai akhir.

(tulisan langsung dari catatan penulis, dengan bahasa penulis tanpa mengurangi makna)

3 thoughts on “JEF sesi tanya jawab…

  1. wow…kok isine berat2 tok ya cin…wah kudu kerja keras iki…..cek ndang iso mengeyam pendidikan sing lebih bonafide

  2. wahhhhhhhhh……diliat dari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan diatas, hidup di jepang penuh tantangan antara hidup dan mati ya……..hehehehehe…lebay…harus kuat duit, kuat mental juga…….(bagi yang mau kuliah di Jepang “semangat semangat…….!” g masalah dengan tantangan2 itu asal kemauan dan niat seperti yg di jelaskan di atas……………:-)

  3. setiap langkah, pasti memiliki tantangan tersendiri, jadi jangan menganggap remeh semua hal ya! paling nggak, kita harus bersungguh-sungguh dalam segala hal, termasuk hal yang sangat kecil sekalipun seperti menggosok gigi, dll😀
    dan kesemuanya harus dilakukan dengan semangat..!! jangan lupa juga berdoa,
    terimakasih atas komentarnya,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s