Kalbu

Jadilah pribadi lebih, agar tidak diperlakukan rata-rata…

Seseorang karyawan yang tidak menonjol pasti mendapat perlakuan yang biasa, alias rata-rata. Beda dengan seorang karyawan yang menonjol akan prestasi kerja dan kualitas pekerjaannya. Atasan pasti berbeda dalam menyikapinya. Dengan kata lain, kelebihan dirilah yang akan menentukan bagaimana orang lain menilai dan memperlakukan diri kita.

Demikian dengan Alloh. Manusia yang biasa-biasa saja pastinya mendapat perlakuan biasa-biasa pula. Lalu bagaimana agar Alloh memperlakukan kita dengan lebih baik daripada hambaNya yang lain? Tentu hanya dengan menjadi pribadi yang lebih, kita akan diperlakukan lebih. Pastinya lebih dalam hal kebaikan.

Apabila ternyata pribadi kita memiliki kelebihan dalam keburukan? Tentu Alloh juga memperlakukan kita dengan lebih buruk.

Sahabat, pernahkah Anda berpikir, untuk apa akhirat diciptakan? Untuk apa surga dan neraka itu ada? Untuk apa?

Anda pasti akrab dengan istilah “baik”. Apa itu baik? Apa kebaikan tukang soto yang melayani pelanggannya dengan ramah, kemudian meminta uang ketika selesai makan? Apa kebaikan tukang ojek yang mengantar kita secara gesit lalu meminta uang ketika pelanggannya sampai di tempat tujuan? Apa kebaikan seorang karyawan yang bekerja mulai pukul delapan hingga lima sore kemudian dia mendapat gaji di akhir bulan?

Sahabat, ketika kita membicarakan kebaikan suatu profesi, maka tak pantas kita mempertanyakan kebaikan itu. Karena pokok utama dalam hal ini adalah hukum kepantasan. Seorang penjual makanan yang melayani pelanggan kemudian mendapat uang setelahnya itu hal yang pantas. Tukang ojek mendapatkan uang dari pelanggan yang selesai dia antar adalah hal yang pantas. Justru bila imbalan itu tidak disampaikan akan menjadi hal yang kurang pantas. Karena kebaikan penjual makanan dan tukang ojek sebagai contoh di atas adalah kebaikan yang dapat dibalas di dunia.

Hal ini pasti berbeda apabila saudara kita yang memberi kita makanan. Atau rekan kerja kita yang mengantarkan kita ke terminal atau perempatan jalur angkutan yang ingin kita tuju. Pantaskah kita memberinya uang sebagai imbalan? Apakah kita pantas memberinya uang, padahal ia bukan seorang pengojek, meski hal yang dilakukannya adalah profesi tukang ojek? Dan 99% pasti mereka menolak uang pemberian kita, karena memang hal ini tidak pantas. Dan kebaikan seperti inilah yang benar-benar disebut baik. Kebaikan seperti inilah yang menyebabkan Alloh menciptakan surga.

Kebaikan yang tidak terbayar lunas di dunia lah yang menyebabkan adanya surga. Karena memang kebaikan seperti ini tidak bisa dibalas dengan instrumen-instrumen duniawi. Di surgaNya lah Alloh membalas kebaikan-kebaikan hambaNya yang tidak terbayar di dunia. Karena itulah sudah sewajarnya kita berlomba-lomba dalam mendapatkan kebaikan yang sifatnya tidak bisa dibalas dengan instrumen duniawi.

Lalu muncul pertanyaan, bagaimana dengan kebaikan saya terhadap perusahaan? Bagaimana kebaikan saya dalam bekerja dari pukul delapan hingga pukul lima sore? Bagaimana dengan lemburan yang dengan jerih payah saya lakukan terhadap perusahaan? Bila memang kebaikan Anda sudah terbayar lunas, terbalas lunas dengan gaji yang tiap bulan diterima, maka selesailah sudah. Tidak ada lagi kebaikan dari pekerjaan Anda yang tersisa untuk Alloh lunasi di akhirat nanti. Karena memang kebaikan Anda telah terbalas di dunia.

Ada suatu kisah, tentang 3 orang yang diusung malaikat yang hendak memasukkan ketiga orang tersebut ke dalam surga. Maka Alloh bertanya kepada malaikat tersebut. “Wahai malaikat, siapakah gerangan orang yang hendak kau bawa ke dalam surga ini?” Malaikat menjawab, “Seorang ini adalah orang kaya yang selama hidupnya menyedekahkan hartanya kepada kaum fakir miskin untukMu, Ya Alloh.” Lalu Alloh menolaknya seraya berkata, “Bohong! Dia bersedekah hanya untuk meraih sebutan dermawan! Dan Aku telah membayar lunas dengan pujian orang-orang di sekitarnya. Maka jangan kau masukkan dia!”

“Orang kedua ini adalah mujahidin, orang yang mati dalam perang untuk membela agamaMu Ya Alloh. Beliau berjuang jiwa raga untuk menegakkan agamaMu Ya Alloh.” Namun Alloh pun menolaknya. “Bohong! Dia hanya ingin disebut pahlawan di hadapan orang-orang, dan Aku telah membalasnya dengan berdirinya monumen-monumen untuk mengenang jasanya. Namanya terpatri dalam lagu-lagu nasional dan dipuji-puji oleh rakyatnya. Itu sudah cukup!”

“Ya Alloh, orang ketiga ini adalah seorang ustad. Ustad yang berdakwah di jalanMu demi memperjuangkan syiar agamaMu.” Alloh pun menolaknya, “Bohong! Lihat amplop-amplop yang bertebaran di kala ia berdakwah! Itu sudah cukup baginya. Jangan kau masukkan ia ke dalam surga. Karena balasan kebaikannya sudah Aku lunasi di dunia!”

Masya Alloh, naudzubillah. Inilah cermin balasan Alloh terhadap kebaikan hambaNya. Lalu, apakah semua kebaikan kita sudah lunas terbayar di dunia? Adakah kebaikan yang bisa Alloh balas ketika di akhirat nanti?

Begitu pula dengan keburukan atau kejahatan yang dilakukan semasa hidup. Keburukan yang tidak terbalas di dunia sudah tentu akan Alloh balas di akhirat kelak. Jadi, para koruptor atau para pelaku tindak kriminal yang saat ini belum berhasil dikenai hukuman di dunia jangan merasa senang dulu. Karena balasan di akhirat akan lebih berat dibanding di dunia. Seumur hidup di penjara masih mending daripada sehari di neraka. Karena Alloh maha adil, maka sudah sepatutnya kita takut untuk melakukan keburukan. Karena keburukan yang tidak terbayar di dunia akan Alloh bayar di akhirat nanti.

Bagi Anda yang kena omel atasan karena kekeliruan pekerjaan, atau Anda yang mendapat tamparan dari guru karena kesalahan Anda, sudah sepantasnya Anda berterimakasih dan bersyukur, karena kesalahan Anda sudah terbayar lunas di dunia. Jadi tidak ada perbuatan buruk Anda yang tersisa untuk dibalas oleh Alloh di akhirat nanti.

Mungkin kita bingung karena banyaknya kesalahan dan keburukan yang kita lakukan selama ini apakah sudah lunas terbalas di dunia, untuk itu mari kita saling meminta maaf atas segala kesalahan kita kepada sesama. Karena itu lebih baik!

Sebab itu tadi, saya, sebagai penulis lewat artikel ini meminta maaf kepada seluruh pembaca dan semua sahabat, kerabat, saudara penulis, atau orang yang tidak penulis kenal namun merasa terdzolimi oleh penulis, dengan hati tulus ikhlas penulis meminta maaf. Karena manusia memang tak luput dari salah dan lupa. Dan semoga kita semua termasuk orang-orang yang memiliki kebaikan yang masih ada untuk masuk ke dalam surgaNya. Dan semoga kita juga termasuk orang-orang yang terampuni dosanya sehingga di akhirat nanti tidak ada keburukan yang harus Alloh balas di dalam nerakaNya. Teruslah berniat baik karena segala amalan tergantung niat. Semoga bermanfaat, terimakasih.

Advertisements

One thought on “Jadilah pribadi lebih, agar tidak diperlakukan rata-rata…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s