Kalbu

Siapa yang sebenarnya sholat?

Sahabat yang dirahmati Alloh, insya Alloh, amiin. Pernahkah sahabat bertanya, sesungguhnya siapakah yang beribadah kepada Alloh? Siapakah yang melakukan sholat? Siapakah yang melakukan rukuk dan sujud? Diri kita kah? Siapa yang sebetulnya butuh sholat?

Sahabat, siapa nama Anda? Tunjukkan mana Anda? Tunjuk dengan jari, mana Anda? Itu? Itu dada Anda! Itu? Itu tubuh Anda! Lalu, mana sebenarnya Anda? Jangan-jangan eksistensi Anda perlu diragukan!

Tahukah sahabat bahwa kita, diri kita terbagi menjadi dua. Yakni jasat, dan ruh. Jasat Anda, dan ruh Anda. Lalu, yang manakah yang butuh sholat? Siapakah yang butuh rukuk dan sujud kepada Alloh? Siapakah yang sebenarnya beribadah kepada sang penciptanya? Tak lain adalah ruh kita. Ruh hanya menggunakan jasat sebagai media mengapresiasikan wujud sholat dan ibadah fisik lainnya. Karena jasat manusia berasal dari tanah, dan akan kembali ke tanah. Sedangkan ruh manusia berasal dari Alloh, dan akan kembali kepada Alloh Subhanallohu wata’ala.

Pertanyaannya, apakah kita sudah total dalam sholat? Dalam rukuk dan sujud kita? Apakah kita sudah melakukan sholat secara khusyuk dan merasa menghadap Alloh? Mungkin tak sedikit dari kita merasa malu karena pertanyaan ini. Rosul bersabda, “Shollukama ro’aitamuniiy ushollii”, yang artinya “Sholatlah kamu sebagaimana aku sholat.” Sedangkan Rosululloh sholat dengan penuh kekhusyukan dan benar-benar menyerahkan ruhnya kepada Alloh. Bagaimana dengan saya dan Anda? Bagaimana dengan kita? Apakah kita bisa benar-benar berserah diri dan menyerahkan ruh kita kepada Alloh? Atau jangan-jangan Alloh yang Rosul sembah berbeda dengan Alloh yang kita sembah? Naudzubillah.

Sahabat pernah merasa benci kepada orang yang ada di dekat Anda? Perasaan benci berasal dari hati kita. Coba amati dengan anggota tubuh sahabat ketika benci. Jika benci telah menguasai hati kita, lihat raut wajah Anda, sahabat! Apakah wajah sahabat tidak ikut menampakkan raut wajah benci? Apakah mata sahabat tidak ikut benci? Apakah gigi dan mulut sahabat tidak ikut benci? Apakah kaki sahabat tidak ikut benci? Apakah pikiran sahabat tidak ikut benci? Adakah hal-hal lain yang terpikirkan ketika sahabat sedang membenci seseorang? Mulai dari bangun tidur, makan, kerja, hingga akan tidur kembali, apakah ada hal-hal lain yang ada di pikiran sahabat selain orang yang sahabat benci tersebut? Jawabannya tidak. Inilah yang disebut kekhusyukan dalam membenci.

Demikian juga dengan khusyuk dalam sholat. Sebarkan rasa cinta kepada Alloh dengan sungguh-sungguh. Maka anggota tubuh yang lain akan mengikuti. Hadirkan Alloh dalam sholat kita. Insya Alloh rasa total dalam sholat akan hadir dalam setiap gerakan sholat kita. Penulis sendiri juga belum bisa merasakan yang namanya khusyuk saat sholat, namun mari sama-sama berusaha. Insya Alloh dengan doa dan ikhtiar, Alloh akan menghadirkan rasa khusyuk dan total dalam beribadah kepadaNya, amiin, amiin, amiin.

Advertisements

11 thoughts on “Siapa yang sebenarnya sholat?

    1. berat gimana om? 😀
      ini kan tentang rutinitas kita sehari-hari sebagai umat muslim
      saya sendiri juga merasakan sulitnya khusyuk dalam sholat

  1. Kalau boleh Saya tambahkan bahwa semua gerak mahluk hidup itu ada yg menggerakkan. Pertanyaan, siapa yang menggerakkan ?
    nah! Kalau kita sholat siapa yang menggerakkan kita untuk sholat? terus, berarti siapa yang sholat melakukan sholat? Ya… hanya ini yang bisa saya tambahkan sebagai bahan renungan kita.

    1. Nah, untuk memahami hal tsb, ada perbuatan yang memang dikuasai manusia, dan ada perbuatan yang menguasai manusia (manusia tidak bisa melawan).

      Dan sholat sendiri adalah perbuatan yang dikuasai manusia. Kenapa? Karena bisa saja kan kita sebagai manusia ketika azan langsung bergegas sholat, ada juga yang abai dan tidak sholat. Artinya di sini kita bisa bertindak sesuai dengan keinginan/kuasa kita sendiri. Artinya perbuatan inilah yang akan dikenai hisab nantinya.

      Sedangkan contoh perbuatan yang tidak dikuasai manusia itu seperti tumbuh menjadi tua, dilahirkan menjadi seorang laki-laki atau perempuan, menjadi seorang yang bertubuh pendek, misalnya. Kita tidak bisa mengingkarinya, sehingga untuk hal ini kita tidak akan dihisab karena sudah takdir. Begitu. Semoga menjawab. Terima kasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s