Kalbu

Tentang prioritas…

Jika Anda dalam usia sekolah, semisal baru lulus tingkat sekolah menengah atas (SMA/SMK) yang alhamdulillah diberikan jalan untuk bekerja, apa prioritas Anda selanjutnya? Kebanyakan dari kita tak lain berpikir untuk melanjutkan pendidikan dan meraih gelar di bangku universitas. Tak jarang juga yang memprioritaskan diri dalam memasuki jenjang pernikahan. Kita begitu keras dalam berupaya agar misi kita tercapai. Tidak terkecuali melakukan hutang, demi tujuan kita ini.

Setelah itu? Prioritas apa yang akan Anda lakukan bila misi pertama telah tercapai? Tak sedikit orang akan mengumpulkan harta untuk membeli kendaraan, atau paling tidak mencicil/menabung untuk mendapatkan sebuah rumah. Kemudian berlanjut dengan prioritas terhadap keluarga yang dimilikinya. Seperti membeli perlengkapan dan perabot rumah, tabungan hari tua, asuransi pendidikan anak, dan masih banyak lagi.

Dari sini nampak sesuatu hal yang wajar dan tidak aneh. Memang boleh sih mempunyai prioritas seperti ini. Namun, jauh dari kesadaran kita, pernahkah kita renungkan untuk memprioritaskan melakukan ibadah haji atau terjun untuk berjihad?

“Haji kan bagi orang yang mampu!”,

“Haji kan harus dibiayai oleh harta kita sendiri, tidak boleh dengan jalan berhutang!”,

“Haji kan wajib dilakukan bila orang-orang di sekitar kita sudah tidak ada yang berkesusahan, sebab bila di sekitar kita masih ada, maka kita lebih disarankan untuk memberikan sedekah baginya!”,

“Jihad kan nggak harus terjun ke medan perang seperti di Iraq, Afghanistan maupun Palestina!”,

“Jihad yang sesungguhnya kan jihad melawan hawa nafsu!”,

“Jihad kan boleh dengan kemampuan yang kita miliki, seperti jihad pelajar adalah belajar dengan sungguh-sungguh, seorang ayah yang berjihad dengan cara bekerja keras mencari nafkah, seorang ibu yang mendidik anak-anaknya dengan baik dan cara islam!”

Inilah beberapa kalimat sanggahan yang kebanyakan muncul di masyarakat. Kalimat-kalimat tersebut tak lain hanyalah kalimat toleransi yang justru memadamkan semangat berhaji atau berjihad. Dari sini bisa dibuktikan bahwa prioritas kita terhadap Alloh, atau terhadap akhirat masih rendah. Dimana kebutuhan duniawi atau materi menjadi prioritas utama dalam kehidupan kita. Pernahkah kita merenungkan hal ini? Tak terasa memang, namun inilah pemikiran yang selama ini kita punyai. Konsep mengedepankan kepentingan dunia dibanding akhirat. Pemikiran yang bahkan dimiliki oleh mayoritas kaum muslimin saat ini (termasuk ibu saya).

Tentang Haji

Renungkan sahabat, bahwa haji adalah salah satu rukun islam yang lima. Tahukah sahabat apa itu rukun? Apabila salah satu rukun saja tidak dilakukan, sempurnakah keislaman kita? Anda pasti tahu jawabannya.

Renungkan sahabat! Renungkan bahwasanya haji adalah ibadah wajib. Ibadah yang diwajibkan oleh setiap individu yang merasa muslim.

  • “Di sana terdapat tanda-tanda yang jelas, (di antaranya) maqam Ibrahim. Barang siapa memasukinya (Baitulloh) amanlah dia. Dan (di antara) kewajiban manusia terhadap Alloh adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitulloh, yaitu bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana. Barang siapa mengingkari (kewajiban) haji, maka ketahuilah bahwa Alloh maha kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari seluruh alam.” – QS Ali Imran [3:97]
  • Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, atau mengendarai setiap unta yang kurus, mereka datang dari segenap penjuru yang jauh.” – QS Al Hajj [22:27]

Inilah tantangan kita, sahabat! Di sinilah letak pengorbanan besar kita yang Alloh nantikan. Berhaji, bagi kita kaum muslim Indonesia, apalagi yang golongan ekonominya lemah (menengah ke bawah) adalah ibadah yang membutuhkan biaya besar. Dan atas dasar inilah banyak kaum muslim Indonesia yang belum bisa menunaikan ibadah haji. Namun tahukah sahabat, apa balasan bagi seorang haji yang mabrur?

  • “Sesungguhnya Safa dan Marwah merupakan sebagian syi’ar (agama) Alloh. Maka barang siapa beribadah haji ke Baitulloh atau berumrah, tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i antara keduanya. Dan barang siapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka Alloh maha mensyukuri, maha mengetahui.” – QS Al Baqarah [2:158]
    Maksud dari kalimat “Alloh maha mensyukuri” adalah bahwa Alloh mensyukuri hambaNya, memberi pahala terhadap amalnya, memaafkan kesalahannya, menambah nikmatnya, dan sebagainya.
  • “Umrah ke Umrah adalah penghapus dosa antara keduanya, dan haji yang mabrur tidak ada pahala baginya selain Surga.” – HR. Bukhari dan Muslim.
    Tiada balasan yang pantas kecuali surga? Subhanalloh!
  • Dari Ibnu Mas’ud Radiyallohuanhu, bahwasanya Rosululloh Sholallohualaihi wasalam bersabda: “Iringilah antara ibadah haji dan umrah karena keduanya meniadakan dosa dan kefakiran, sebagaimana alat peniup api menghilangkan kotoran (karat) besi, emas dan perak, dan tidak ada balasan bagi haji mabrur melainkan Surga.” – HR. At Tirmidzi, An Nasa’i, dan selainnya
  • Dari Abu Hurairah Radiyallohuanhu, dia berkata, Aku mendengar Nabi Sholallohualaihi wasalam bersabda: “Barangsiapa melakukan haji ikhlas karena Alloh Subhanahu wata’ala tanpa berbuat keji dan kefasikan, maka ia kembali tanpa dosa sebagaimana waktu ia dilahirkan oleh ibunya.” – HR. Bukhari dan Muslim
  • Dari Ibnu Umar Radiyallohuanhuma dari Nabi Sholallohualaihi wasalam, beliau bersabda: “Orang yang berperang di jalan Alloh dan orang yang menunaikan haji dan umrah, adalah delegasi Alloh. (ketika) Alloh menyeru mereka, maka mereka memenuhi panggilanNya. Dan (ketika) mereka meminta kepadaNya, maka Alloh mengabulkan (permintaan mereka).” – Hadist Hasan, dalam Shahih al Jaami’ish Shaghiir dan Sunan Ibnu Majah

Jadi, mengapa tidak kita prioritaskan di awal? Memang benar, bahwasanya ibadah haji diperuntukkan bagi muslim yang mampu. Mampu dari aspek kesehatan, ilmu dan yang utama adalah materi. Namun, akahkah Anda pasrah dan tidak berusaha sungguh-sungguh untuk menunaikan haji? “Tetapi barang siapa datang kepadaNya dalam keadaan beriman, dan telah mengerjakan kebajikan, maka mereka itulah orang yang memperoleh derajat yang tinggi (mulia)” – QS Taha [20:75]

Renungkan pula bahwa tak satupun dari kita tahu kapan akan menemui kematian. Karena itulah, mari kita berlomba-lomba untuk menyegerakan ibadah akbar, ibadah yang akan mempertemukan kita dengan kaum muslim dari seluruh pelosok dunia, yakni ibadah haji.

Apa upaya kita saat ini? Bagi yang telah memenuhi syarat berhaji, terutama materi, bersegeralah mendaftarkan diri untuk berhaji! Sedang bagi yang belum cukup materi untuk berhaji, silakan menabung mulai saat ini!

Tentang Jihad

Jihad memiliki peranan yang sangat penting bagi Islam. Hal ini disyariatkan Alloh dan Rosululloh melalui Al Qur’an dan hadist, diantaranya:

  • Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu. Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu tidak baik bagimu. Alloh mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. – QS Al Baqarah [2:216]
  • Wahai orang-orang yang beriman, mengapa apabila dikatakan kepada kamu, “Berangkatlah (untuk berperang) di jalan Alloh”, kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu lebih menyenangi kehidupan di dunia daripada kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit. – QS At Taubah [9:38]
  • Sesungguhnya Alloh membeli dari orang-orang mukmin, baik diri maupun harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Alloh, sehingga mereka membunuh atau terbunuh, (sebagai) janji yang benar dari Alloh di dalam Taurat, Injil dan Al Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya selain Alloh? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan demikian itulah kemenangan yang agung. – QS At Taubah [9:111]
  • Barang siapa mati dan ia belum berperang (di jalan Alloh) serta belum mewajibkan dirinya untuk berperang (di jalan Alloh), maka ia mati dalam keadaan menetapi salah satu bagian dari kemunafikan – HR Muslim

Secara mutlak, makna jihad meliputi:

  • Jihad melawan hawa nafsu,
    dilakukan dengan mempelajari berbagai macam ilmu Islam dan mengamalkannya
  • Jihad melawan godaan setan,
    dilakukan dengan menjauhkan diri dari sesuatu yang meragukan, karena dalam keragu-raguan itulah setan membisiki kita, serta dengan mengekang keinginan hawa nafsu
  • jihad melawan kebiadaban orang-orang kafir serta fasik,
    dilakukan dengan kekuatan, baik tangan (kekuasaan, harta), lisan maupun hati

Beberapa kondisi yang menyebabkan jihad menjadi fardhu ain adalah:

  1. Jika terjadi peperangan, maka umat muslim diwajibkan ikut berperang, dan Alloh membenci orang yang melarikan diri dari peperangan.
  2. Jika negerinya didatangi atau diserang musuh, kita dilarang untuk melarikan diri dan membiarkan musuh menjajah dan menguasai negeri kita.
  3. Jika kaum muslim benar-benar diharuskan berjihad dalam bentuk perang yang sesungguhnya saat muslim lain ditindas dan diperangi oleh musuh.
  4. Jika pemimpin atau penguasa pemerintahan memerlukan bantuan perang. Dalam hal ini perlu ditinjau juga watak dari pemimpin tersebut. Bila pemimpinnya bertolak belakang dari syariat Islam, maka seharusnya ia tidak boleh memimpin. Namun yang saat ini terjadi adalah pengangkatan pemimpin yang jauh dari nilai Islam. Maka apakah kita harus menuruti pemimpin di negeri kita? Padahal kita tahu sendiri bahwa jihad memerangi kaum yang fasik adalah wajib.

Sebagai refleksi, apakah kondisi yang mengharuskan kita berjihad secara perang di atas telah terpenuhi? Saya rasa, “Iya!” Terutama poin 1 dan 3 dalam kondisi di atas. Kita tahu, saudara semuslim kita di Iraq, Palestina, Afganistan telah banyak dibantai? Bahkan ada juga saudara muslim kita, di negara kita sendiri telah dibantai oleh kaum kafir di beberapa tempat yang luput dari sorotan media, seperti di Poso misalnya.

Catatan untuk poin “Jihad melawan kebiadaban orang-orang kafir dan fasik” adalah apabila mereka mengganggu atau menyerang umat muslim terlebih dahulu, ini terlihat pada kata “kebiadaban” yang menunjukkan bahwa umat muslim tidak diperkenankan untuk memerangi kaum kafir yang tidak mengganggu atau menyerang kita terlebih dahulu.

Semoga kita termasuk orang-orang yang bisa berjihad di jalan Alloh, amiin. Saya sendiri sadar bahwa semangat berjihad masih gersang. Semoga dengan terus menggali ilmu dan mengkaji Islam dengan sungguh-sungguh, kita dapat menjalankan dengan total, apa yang diperintahkan Alloh, termasuk jihad ini sendiri. Serta dengan tegas meninggalkan yang diharamkan oleh Alloh, amiin.

(sumber: Al Qur’an, Ringkasan Fikih Syaikh Fauzan (2006), web HTI)

9 thoughts on “Tentang prioritas…

    1. tidak apa-apa lah, namanya beda pendapat kan boleh 😀
      mungkin alasan ibu saya dan juga Anda ada benarnya, dengan pikiran kuliah dulu sambil kerja, maka waktu untuk mengumpulkan biaya untuk berhaji menjadi lebih cepat terkumpul

  1. berusaha menabung sambil bayar kuliah
    kalo lancar mungkin 2-3 tahun lagi bisa, amiiin
    eh, tapi pengen nge-haji-in ortu dulu
    jadi kayaknya ditunda lebih lama lagi, ahahaha
    btw seblum lebaran, salaman dulu ya
    maaf lahir batin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s