Pengalaman

Mudik berkah…

Mudik, mudik, mudik! Setiap Idul Fitri, mudik memang sudah menjadi tradisi di negeri kita, karena memang mayoritas masyarakat Indonesia merayakan hari besar yang spesial ini. Termasuk saya sebagai warga perantauan yang rindu akan keluarga di rumah, di kampung halaman, Kediri.

Lebaran Idul Fitri tahun ini, 2010M, 1431H, adalah lebaran tahun kedua saya selama bekerja di Jakarta. Meski demikian, baru tahun ini saya merasakan mudik di hari lebaran, Idul Fitri semenjak merantau di Jakarta.

Mudik kali ini saya cukup beruntung, bahkan dibilang sangat beruntung. Kenapa? Karena mudik saya kali ini bisa dibilang bebas biaya, alhamdulillah. Tapi enggak juga sih, lha wong demi mendapat kegratisan tersebut saya harus mondar mandir Jakarta – Bogor 3 kali.

Jadi begini, saya termasuk salah satu orang yang beruntung mendapat kesempatan mudik gratis yang diselenggarakan oleh operator CDMA, Flexi. Nama program mudik gratisnya adalah “Mudik asik bersama Flexi”. Untuk mendapatkan tiket gratis tersebut, saya harus mengisi formulir pendaftaran serta fotokopi KTP ke panitia penyelenggara di Plaza Telkom Bogor. Selain tiket gratis, saya juga mendapat ransel gratis, kaos gratis, payung gratis, kipas manual gratis dan pin yang harus dipakai saat acara mudik. Bus mudik berangkat 7 September 2010, atau H-3 dari Senayan, Jakarta.

Bisa dibilang mudik berkah, karena selain gratis, ada 2 pengalaman luar biasa yang saya dapatkan. Dari sisi rejeki, alhamdulillah saat di bus, peserta mudik mendapat amplop “uang saku”, yang berisi uang tunai Rp 35.000,- dan voucher flexi senilai Rp 10.000,- Namun yang jauh lebih bernilai adalah 2 pengalaman yang luar biasa, menurut saya.

Pengalaman yang pertama adalah menjadi koordinator. Bisa dibilang ini adalah kali pertama saya memimpin suatu rombongan yang terdiri dari berbagai kalangan usia. Saya terpilih karena petugas flexi yang seharusnya menjadi koordinator bus saat itu berhalangan hadir secara mendadak. Akhirnya saya dipilih langsung oleh panitia, karena saya duduk di depan. Bus yang saya koordinatori adalah bus bernomor urut 12 tujuan akhir Malang, dengan trayek Jakarta – Cirebon – Semarang – Solo – Madiun (Caruban) – Nganjuk – Jombang – Mojokerto – Malang.

Dua jam bus melaju, Mas kondektur berinisiatif untuk menghibur peserta mudik dengan memanfaatkan video player dan layar televisi yang ada di depan. Sudah saya duga, video yang diputar adalah video musik dangdut orkesan (orkes melayu) dan keroncong. Yang saya sayangkan bukanlah musiknya, namun video klipnya itu lho. Full adegan goyangan dari penyanyi dangdutnya. Padahal semua tahu, kondisi saat itu adalah bulan puasa, dan di dalam bus banyak juga anak-anak yang menurut saya tak pantas bila dipertontonkan goyangan-goyangan pantat seperti itu.

Pengalaman kedua adalah berkoar-koar di depan rombongan. Saat bus berhenti di salah satu SPBU di Brebes untuk sholat, disinilah muncul permasalahan. Menjadi pemimpin bukan hal yang mudah. Ia akan dimintai pertanggung jawaban kelak. Termasuk tanggung jawab akan ibadah sholat rombongannya, harus diperhatikan. Kala itu saya berinisiatif untuk menjamak takhir sholat dhuhur dan ashar, dikarenakan waktu istirahat yang harus diminimalkan agar menghemat waktu di perjalanan. Tak lupa ketika membolehkan peserta untuk keluar bus, saya menghimbau mereka untuk menunaikan sholat. Namun hanya 20% dari peserta yang mengambil wudhu dan sholat. Khusnudhon sajalah, karena banyak juga peserta wanita yang tidak sholat, saya asumsikan sedang kedatangan tamu bulanan. Tapi untuk bapak-bapaknya ini lho, kok lumayan juga yang nggak sholat, termasuk Pak Supir dan rekan-rekan.

Disini saya tidak bermaksud untuk mencari kesalahan peserta yang meninggalkan sholat, karena yang saya kedepankan adalah perintah Alloh untuk berbuat ma’ruf dan meninggalkan yang mungkar. Meninggalkan sholat adalah satu bentuk kemungkaran, dan Rosululloh bersabda, “Barang siapa diantara kamu yang melihat kemungkaran, maka hendaklah ia merubah (mengingkari) dengan tangannya, jika tidak mampu hendaklah ia merubah (mengingkari) dengan lisannya, jika tidak mampu hendaklah ia merubah dengan hatinya, dan itulah selemah-lemahnya iman.” – HR. Muslim. Berbekal hadist inilah, saya berusaha untuk mengajak, menghimbau dan mengingatkan para peserta untuk mengerjakan sholat. Juga karena tanggung jawab peserta adalah tanggung jawab pimpinan, termasuk ibadah sholatnya. Karena itu saya tak bosan untuk mengingatkan dan menghimbau berulang kali.

Masalah berikutnya adalah dalam pengamalannya. Kala itu, saya berjamaah dengan 2 orang peserta. Karena merasa lebih tua, salah satu peserta bersedia menjadi imam, namun sebelumnya, saya bertanya, sholat jamaknya diringkas (qoshor) roka’atnya atau tidak? Dan beliau mengangguk serta mengucap, “Ya!” Saat duduk tahiyat di roka’at kedua, saya curiga, kok duduk tasyahudnya seperti tasyahud awal. Dan ternyata memang jumlah roka’at sholat dhuhurnya tidak diqoshor. Dari sini saya mulai bertanya, bagaimana status sholat dhuhur saya? Saya berniat mengqoshor, namun sang imam tidak. Apakah sholat saya sah? Saya pun acuh dan melanjutkan roka’at ketiga dan keempat sholat dhuhur, lalu salam.

Saya tunggu tunggu sang imam berdiri untuk melanjutkan menjamak sholat ashar, eh beliaunya malah berdiri dan berlalu akan keluar musholla. Saya pun langsung bertanya kepada beliau, “Maaf Pak, tadi kita sholat apa ya?” Bapak yang menjadi imam menjawab, “Sholat ashar, Mas!”

Aarrg!! Saya langsung kaget. Lalu saya melanjutkan bertanya lebih jauh lagi, “Bapak tadi sudah sholat dhuhur?”
“Belum!”, jawabnya.
“Lha terus, kenapa nggak dikerjakan?”
“Lha kan sekarang waktunya sholat ashar!”

Saya langsung berkesimpulan bahwa bapak ini belum tahu tentang sholat jamak dan qoshor. Saya pun menjelaskan dengan singkat, apa itu sholat jamak dan bagaimana cara melaksanakannya.

“Pak, dalam perjalanan itu kita diberi keringanan sholat, yakni dengan menjamak atau mengerjakan 2 sholat di satu waktu, bisa di awal ataupun di akhir. Ya sudah, sekarang Bapak dan Mas (peserta yang juga menjadi makmum) sholat lagi ya! Sholat jamak dhuhur dan ashar! Saya yang jadi imamnya! Roka’atnya tetap, niatnya begini…”

Waktu istirahat selesai. Saya berkoar-koar kembali mengumpulkan peserta ke dalam bus. Saya berpikir, inilah waktu yang tepat untuk berbagi ilmu. Saat bus mulai berjalan dan wajah-wajah peserta masih fresh karena baru beristirahat, saya meminta mikropon dari Pak Supir dengan perasaan menggebu-gebu ingin berbagi ilmu tentang sholat jamak dan qoshor. Mulanya sedikit canggung, karena jangankan bersuara, berdiri di depan khalayak umum saja saya merinding.

Alhamdulillah, saya bisa berbicara lancar saat itu. Tak hanya tentang rukhsyoh atau keringanan sholat ketika dalam perjalanan, saya juga dapat menyampaikan tentang pentingnya sholat. Alhamdulillah, lidah saya lancar dalam menyampaikan hal ini. “Ada yang ditanyakan?”, tanya saya. Tak satupun jari yang diacungkan. “Sepertinya rohnya Bapak-bapak dan Ibu-ibu sudah di kampung nih!”, timpal saya. “Ada yang ditanyakan? Sudah paham atau malah nggak sama sekali nih? Atau karena topiknya nggak menarik?”, ucap saya. Yah, tak apalah. Semoga mereka benar-benar mengerti, amiin. Maklum, pertama kali berkhotbah, ehehe. Yang lucu adalah setelah saya selesai berbicara di depan, Mas kondektur segera memutar video ceramah bahasa Jawa yang bahasanya menggelikan, sampai-sampai seluruh peserta mudik “ngakak”, termasuk saya.

Inilah pengalaman yang berkesan bahwa perjalanan mudik saya kali ini adalah berkah. Khususnya bagi pribadi saya untuk menapaki jalan dakwah yang menjadi kewajiban umat muslim. Saking pentingnya, Rosul bersabda, “Sampaikanlah walau satu ayat!” Pengalaman berkhotbah atau berdakwah pertama kalinya di depan khalayak umum. Semoga Alloh memberi lebih banyak lagi kesempatan berdakwah bagi saya dan umat muslim yang lain. Kesempatan berdakwah sih saya rasa ada banyak sekali, melihat kemungkaran disana sini yang terjadi saat ini. Namun yang terpenting adalah semoga kita senantiasa diberikan ilmu sebagai bekal dan keberanian dalam melakukan dakwah itu sendiri.

Semoga bermanfaat, terimakasih kepada pembaca yang sudah meluangkan waktu membaca hingga akhir. Karena masih dalam suasana Syawal, “Taqabbal allahu minna wa minkum, taqabbal ya kariim”, semoga Alloh menerima ibadah Ramadhan kita. Mohon maaf atas segala khilaf.

20 thoughts on “Mudik berkah…

    1. Wekekke, semoga bisa mudik dalam waktu dekat. Biar bisa ngerasain suasana mudik ke kampuang halaman. Btw tenang aja, dakwah bisa dimana saja kok, om! Mari berjuang!๐Ÿ˜€

  1. Ralat cin TGL 7 ,wong busku karo busmu susul2an terus๐Ÿ˜€
    balapan karo Tsel dan XL pisan wkwkwkw
    Mudik bareng operator critane :))

  2. tentang fikih ibadah, ya… mungkin memang masih banyak yang belum tau untuk ketentuan di luar kondisi biasa yang memungkinkan kita sholat dengan normal. untuk masbuk aja, terutama cewek *ya iyalah saya kan di saf cewek* masih sering aja ada yang kalo masbuk itu dia ngebut nyesuain sama rakaat imam =|

    1. Untuk itulah bagi kita yang memiliki pengetahuan akan hal ini wajib untuk mengingatkan atau memberi tahu saudara semuslim yang belum tahu. Terimakasih komentarnya mbak yu.

  3. kereeeen..jarang2 mudik smbil dengerin ceramah
    udah pada ngantuk lagi tu penumpang makanya pda g konsen dengerin ceramahnya ochin..hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s