Kalbu

Adab walimatul ursy…

“Sebuah ibadah yang nyaris terlupakan”

Bagi seorang muslim, menjalani kehidupan ini adalah ibadah. Sebab, Alloh Subhanahu wata’ala memang telah menciptakan jin dan manusia untuk beribadah kepada-Nya. “Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku” – TQS Adz Dzariyat [51:56]

Dengan demikian, apapun segi yang dijalani manusia dalam kehidupannya, termasuk melangsungkan pernikahan adalah ibadah. Agar bernilai ibadah, sebuah aktivitas, termasuk pernikahan, harus memenuhi 3 kriteria yang telah Alloh Subhanahu wata’ala tentukan, yaitu Lillah, Billah, dan Illalloh.

  1. Lillah

    Maknanya, seluruh seluruh aktivitas kita, termasuk melangsungkan pernikahan, harus didasarkan semata-mata karena Alloh Subhanahu wata’ala.

    Rosullulloh Sholallohualaihi wasalam bersabda: “Sesungguhnya amal itu bergantung pada niat dan sesungguhnya setiap orang memperoleh apa yang diniatkannya.” – HR. Bukhari, Muslim.

    Karena itu, niat atau tujuan diadakannya walimatul ursy (resepsi pernikahan) bukanlah untuk berfoya-foya, tetapi untuk diketahui oleh masyarakat sehingga tidak akan timbul fitnah; bukan pula untuk pamer (riya’ atau sum’ah), tetapi untuk menghidupkan sunnah Rosululloh Sholallohualaihi wasalam. Apalagi pada saat ini, tatacara pernikahan Rosululloh Sholallohualaihi wasalam (yang masyur pada zamannya) serta beberapa generasi sesudahnya sudah menjadi barang langka, bahkan dianggap aneh. Bahkan sejumlah besar kaum muslim menolak untuk membudayakannya dengan beranggapan bahwa hal tersebut hanya sekedar kebudayaan Arab dan bukan sunnah. Padahal, jika memang demikian halnya, Rosululloh Sholallohualaihi wasalam tidak akan menjadikan tatacara ini sebagai ciri khas pernikahan-pernikahannya (juga ketika menikah dengan wanita-wanita non Arab, seperti dengan Maria al-Qibthiyah (keturunan Mesir) atau Shafiyah binti Huyai bin Akhtab (keturunan Yahudi).

    Namun demikian, kalaulah cara seperti ini tetap dianggap sebagai kebudayaan Arab, kebudayaan inilah yang lebih pantas kita ambil sebagai tatacara pernikahan ketimbang kebudayaan barat, yang jelas-jelas sangat jauh dari nilai-nilai yang ada dalam Islam; seperti pakaian yang tidak menutup aurat secara sempurna, standing party (makan sambil berdiri), ataupun ikhtilath (bercampur-baur tamu laki-laki dan perempuan), dll.

    Sebagian lagi mengakui bahwa perniakhan seperti ini adalah sunnah Rosululloh Sholallohualaihi wasalam, tetapi mereka enggan membudayakannya. Alasannya, tidak bisa, atau cuma sekedar khawatir dicerca oleh kaum muslim yang lain karena dianggap berani tampil beda. Padahal, disinilah tantangannya. Pada saat orang lain tidak berani menghidupkan sunnah, kita harus berani menghidupkannya, karena kita ingin meraih ridho Alloh Subhanahu wata’ala. Lagipula, siapa lagi yang akan memakai tatacara pernikahan islami kalau bukan kita, umat Islam sendiri?

  2. Billah

    Maknanya, setiap aktivitas kita harus sesuai dengan aturan-aturan Alloh Subhanahu wata’ala. Karena itu, pelaksanaan walimatul ursy (resepsi pernikahan) haruslah memperhatikan hal-hal berikut, di antaranya:

    • Tidak mencampuradukkan tamu laki-laki dengan perempuan, termasuk mempelai pria dan wanitanya. Disamping karena tuntunan syariah, tujuan dari hal ini adalah untuk menghindari timbulnya kesempatan bermaksiat. Apalagi pada zaman sekarang, baik mempelai waniat ataupun para tamu wanita biasanya akan tampil di luar kebiasaan sehari-hari; bahkan masih banyak di antara mereka tampil tidak islami, tidak menutup aurat, bertabarruj dengan make-up yang berlebihan dan parfum yang semerbak, dll. Jika tamu laki-laki disatukan dengan mereka maka akan timbullah kemaksiatan (mata, hati, telinga, hidung, dll) dan akan sulit sekali mengamalkan perintah Alloh Subhanahu wata’ala untuk menundukkan pandangan. Padahal Alloh Subhanahu wata’ala berfirman: “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Alloh, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” – TQS An Nur [24:30-31]
    • Tidak menyajikan hiburan yang tidak islami dan hidangan yang haram. Karena pernikahan adalah ibadah, maka kemurniannya harus dijaga; jangan sampai tercampur dengan hiburan-hiburan yang tidak islami dan hidangan yang haram. Alloh Subhanahu wata’ala berfirman: “Janganlah kalian mencampurbaurkan yang haq dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang haq itu[43], sedang kamu mengetahui.” – TQS Al Baqarah [2:42]. Kaum muslim sebenarnya telah memiliki alternatif hiburan islami, yaitu nasyid (lagu-lagu yang syiarnya mengingatkan manusia akan Alloh dan keagungan-Nya), baik tanpa iringan musik (acapella) atau hanya diiringi dengan alat musik sederhana.
    • Hendaknya para tamu memberikan doa kepada kedua mempelai, dengan doa yang diajarkan Rosululloh Sholallohualaihi wasalam: “Semoga Alloh melimpahkan berkah kepadamu dan atasmu serta menghimpun kalian berdua dalam kebaikan.” – HR. At Tirmidzi.
  3. Ilalloh

    Maknanya, tujuan aktivitas kita, apapun termasuk pernikahan, tujuan akhirnya adalah meraih ridho Alloh Subhanahu wata’ala. Tujuan menikah hanyalah untuk mendapatkan ridho-Nya, bukan untuk tujuan-tujuan lain yang bersifat duniawi atau materi.

Demikianlah sahabat, melaksanakan walimah yang islami yang memenuhi persyaratan lillah, billah, ilalloh, insya Alloh penyelenggaraan pernikahan tersebut akan Alloh terima sebagai ibadah, yang pelakunya akan mendapatkan ridho-Nya. Amiin.

(sumber: undangan pernikahan temannya teman saya)

Advertisements

12 thoughts on “Adab walimatul ursy…

      1. mau begitu ntr walimahannya..*pentung..pikirannya nikah ae*
        buruburu kan juga blm adapun yg diajak buruburu…*blush*

    1. Wah,salut buat antum, bisa menghidupkan walimatul ursy yang syar’i! Di daerah tempat saya tinggal juga bisa dibilang belum ada yang menggunakan adab Islam. Ini tantangan buat saya! Semoga pernikahan antum selalu mendapat rahmat dan ridho Alloh, amiin! Dan semoga bisa menjadi contoh bagi saudara atau rekan antum yang akan walimahan.

  1. mana PIC nya gan? biar lebih mangtabs

    btw Nice post

    keep spirit gan untuk mencari calon bidadari surga (mirip2 yg ngasi koment ini) 😀 😀

    1. hihi, ya maap nggak ada gambarnya 😀
      jenuh jadinya ya? kalo nggak ada gambar?
      btw yang ngasih komen siapa sih? emang iya kaya bidadari? kasian banget yang ndapetin! wkwkwk..
      btw suwun komene!

    1. Alangkah baiknya bila cinta tersebut didasarkan pada rasa cinta kepada Alloh. Dan memang cinta harus ada! Namun jangan sampai mengalahkan Lillah, Billah, dan Ilalloh. Terimakasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s