Pengalaman

Selamat jalan, Kereta…

“Selamat jalan Kereta, selamat tinggal! Terimakasih telah setia bersamaku selama ini! Tak terasa, setahun lebih kita bersama. Satu tahun empat bulan, kau dan aku. Ya, kita bersama.”

bye kereta
"Selamat jalan, Kereta!"

“Ingatkah kau saat kita hampir tertabrak motor tak berlampu di turunan malam hari itu? Ya, hampir saja. Dan sudah dua kali ini terjadi pada kita.”

“Aku masih ingat saat kita terpeleset, terjatuh dan bergulingan di turunan parkiran Plaza Telkom Fatmawati. Lantas kita jadi tontonan pak satpam dan para pemarkir motor.”

“Masih ingatkah ketika dalam semalam kita terjatuh sebanyak dua kali, terpeleset di belokan gang malam itu? Saat berangkat dan pulang dari kegiatan menemani anak-anak belajar.”

“Pasti kau ingat, saat terakhir kali kita jatuh! Saat itu malam di bulan Desember 2010! Benar, kita terpeleset lagi! Malam itu ku akui, memang aku yang salah. Aku tidak memperhatikan sekat rem ban depanmu. Aku salah, karena aku tetap mengayuh di jalan menurun yang basah bekas hujan. Aku pikir, kita bisa menaklukkan jalanan itu. Kau pasti sakit, karena aku juga merasakan sakit, sampai-sampai jempol kaki kananku berdarah. Bahkan sedotan yang membantu menguatkan sendal jepitku pun lepas. Aku minta maaf, Kereta!”

“Aku pasti merindukan saat-saat dimana aku selalu kau temani berbelanja ke pasar, menarik uang di ATM, pergi ke rumah anak-anak yang butuh teman belajar, bahkan ke Pondok Indah (POIN) Square yang saat itu tak ada tempat parkir sepeda! Masih sangat jelas terbayang saat hendak masuk ke parkiran sepeda motor, mbak tukang parkir memberikan sedikit ruang, di belakang kotak tempat ia bekerja, untuk tempat kita parkir dengan gratis. Hahaha, terimakasih kepada mbak parkiran.”

“Kenapa jadi cerita panjang lebar tentang kenangan kita ya? Ah, biarlah. Aku ingin mengingatnya. Karena tanpa ku katakan pun, kau pasti tahu bahwa aku menyayangimu, Kereta! Meski kau adalah sepeda bekas yang kubeli di pasar, namun kau adalah sepeda yang hebat. Kau pernah dengan gagah menemaniku ke Bogor, dimana kau adalah sepeda dengan harga beli termurah diantara sepeda-sepeda yang ikut dalam perjalanan bersepeda ke Bogor kala itu.”

“Bila teringat tertawaan yang bernada menghina dari sepasang remaja labil yang mengendarai sepeda motor sore itu, agaknya membuatku sedih. Tapi kenapa harus sedih ya? Ah biarlah, toh mereka hanya remaja labil, ehehe.”

“Oh iya, bukankah kita pernah ke Ragunan bareng? Semoga kau masih ingat keceriaan anak-anak pengunjung kebun binatang waktu itu.”

“Kereta, kau masih ingat rute ke kampus Universitas Budi Luhur yang di Cileduk kan ya? Yang waktu minggu pagi itu lho, kita survey lokasi kuliah! Berbekal fotokopian peta daerah Cilandak, Pondok Indah, Bintaro dan Cileduk, satu jam akhirnya kita sampai dengan bermandi peluh! Rencanaku untuk mengajakmu ke kampus ternyata tidak terealisasi, ya karena sampai saat ini aku belum kuliah. Dan kini, kita terpisah.”

“Eh Kereta, kita juga pernah hujan-hujanan bareng lho! Yang malam itu aku stres, dan ngebut di tengah derasnya hujan! Rasanya lega banget, meski sempat was-was ketika di belokan. Kau tahu sendirilah, kalau keahlian mengeremmu belum bisa ku andalkan, hahaha!”

“Semakin diingat, ternyata banyak ya momen yang telah kita lalui bersama. Suka dan duka, kau masih setia menemaniku. Kebanyakan sih dukanya yang paling gampang diingat. Itu semakin membuatku ingin berterimakasih kepadamu, Kereta! Terimakasih! Aku tak akan melupakanmu, karena kau adalah sepeda pertamaku yang kubeli dari hasil diriku bekerja. Meski statusmu adalah sepeda second, namun bagiku, kau adalah yang pertama.”

“Ingatlah kereta, aku selalu menyayangimu. Aku memutuskan berpisah denganmu bukan karena aku ingin mencari penggantimu. Bukan pula karena aku bosan denganmu! Bukan itu alasannya! Aku memutuskan untuk berpisah karena aku tahu siapa yang akan kau temani dalam kesehariannya. Dia adalah orang yang lebih baik daripadaku! Kau harus tahu, siapa yang akan kau temani setelah aku! Dia adalah pengemban dakwah, kau tahu itu? Kau akan menjadi saksi baginya di pengadilan Alloh kelak. Kau akan menjadi saksi perjuangan seorang syuhada, hamba Alloh yang berjuang di jalan-Nya! Kau pasti bahagia! Aku tahu itu, Kereta! Karena itu, janganlah engkau bersedih! Jangan sekali-kali kau bersedih! Karena aku pun tidak akan bersedih lagi dengan kepergianmu.”

kereta, dulu dan kini
Kereta, dulu dan kini

20 thoughts on “Selamat jalan, Kereta…

  1. Semangat mas bro niko …. perjuanganmu patut membuat yang lain iri. Sangar …!!! “Manusia Langka” ..di zaman seperti ini !! tidak ada kata yang bisa diucapkan kecuali “salut”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s