Kalbu

3 huruf yang sukses membuatku menangis…

Percaya atau tidak, 3 huruf yang bila dirangkai menjadi sebuah kata dalam bahasa Indonesia ini akan menjadikan Anda menangis. Cepat atau lambat, sadar atau tidak, meskipun Anda adalah seorang pembunuh sekalipun. Terkecuali akal dan hati Anda telah hilang. Dari sini apakah Anda sudah dapat menebak 3 huruf tersebut? Kalau belum, mari kita lanjut petunjuk berikutnya.

3 huruf, terdiri dari 2 vokal dan 1 konsonan, yang apabila dirangkai menjadi kata dalam bahasa Indonesia, Anda akan langsung berpikir, dia, atau lebih tepatnya beliau, adalah sosok yang bisa dibilang manusia nomor satu dalam kehidupan Anda. Menyerupai malaikat mungkin. Sudahkah Anda mendapati 3 huruf tersebut?

Baiklah, saya tidak akan berlama-lama membuat Anda jenuh. Berangkat dari pembacaan Qur’an Surat Al Ahqof ayat 15 oleh sang uztad, dengan sungguh-sungguh mendengar, saya curiga, mau dibawa kemana arah tausiyah malam itu.

Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”TQS Al Ahqof [46:15]

Benar, 3 huruf tersebut berturut-turut adalah i, b, dan u, IBU! Apakah mata Anda sudah berkaca-kaca? Ehehe, kalau belum, saya menawarkan diri untuk memaksa Anda meneteskan air mata Anda yang begitu mahal.

3 huruf tersebut memang lebih dari cukup untuk membuat orang menangis. Tak sampai mengulangnya hingga 3 kali, kata IBU memang modal yang pas untuk menguras air mata seseorang yang memiliki ibu.

Dalam ayat tersebut di atas, Alloh memberikan perintah kepada kita, umat muslim untuk berbuat baik kepada kedua orang tua kita. Sosok ibulah yang menjadi fokus pada ayat tersebut. Alloh menyebutkan dengan jelas, seorang ibu mengalami kepayahan dalam 3 hal; mengandung, melahirkan, dan menyusui atau memelihara kita. Yang idealnya menurut Alloh adalah 30 bulan, mulai masa mengandung hingga menyapih.

Ini sejalan dengan hadist Rosul tentang siapakah orang pertama yang harus dihormati. Dari Abu Hurairoh RA, beliau mengisahkan: Seorang laki-laki datang menemui Rasululloh SAW dan bertanya kepada beliau, “Wahai Rasululloh, siapakah manusia yang paling berhak aku hormati?” Beliau menjawab, “Ibumu! Ia bertanya lagi, “Lalu siapa?” Rasul menjawab lagi, “Ibumu!” Ia balik bertanya, “Siapa lagi?” Rasul kembali menjawab, “Ibumu!” Ia kembali bertanya, “Lalu siapa lagi?” Beliau menjawab, “Ayahmu!”HR. Bukhori, Muslim. 3 tingkatan penghormatan untuk 3 kepayahan. 3 kepayahan yang tidak bisa diwakilkan kepada seorang laki-laki.

Poin berikutnya adalah kalimat “..apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun..” mengindikasikan bahwa di usia tersebut, bisa dibilang usia kenabian, seorang anak akan mulai berpikir tentang nasehat-nasehat orang tuanya dulu. Seraya merenungi diri tentang baktinya kepada orang tua. Kemudian berdoa, “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”.

Orang tua adalah orang yang paling banyak memiliki pengharapan kepada anak. Namun ironisnya justru anaklah yang menjadi pemutus harapan orang tua. Setiap orang tua pasti berharap anak-anaknya kelak menjadi anak yang sholeh/sholeha, berbakti kepada orang tua, pokoknya yang baik-baiklah. Tapi coba kita luangkan waktu barang satu, dua menit untuk instrospeksi diri, “Apakah kita sudah seperti apa yang ibu-bapak kita harapkan?” Dengan lantang saya berani berkata, “Belum!”

Yah, memang begitulah kenyataannya. Kita belum bisa mempersembahkan sepenuhnya upaya untuk mewujudkan harapan-harapan orang tua kita. Seorang ibu, dalam kepayahannya melahirkan, cucuran keringat dan darah telah beliau persembahkan untuk anaknya. Tapi, apakah kita sudah mempersembahkan kucuran keringat apalagi darah?

Silakan menangis! Biarkan hati Anda meraung mengingat tingkah dan kelakuan Anda yang membuat ibu Anda mengelus dada! Menangislah, sahabat!

Sejenak, saya ingin mengutip cerita tentang seorang anak yang dengan tekun merawat ibunya yang sakit, tak berdaya. Ia selalu menemani dan melayani sang ibu yang lumpuh tersebut mulai dari menyuapi ibunya makan, memberi minum, membersihkan tubuh ibunya, membantu ibunya saat buang air, hingga menemani ibunya tidur. Ini terus dilakukannya selama bertahun-tahun. Seorang anak tersebut mendatangi Rosululloh lalu bertanya apakah pengorbanan ibunya yang dahulu mengandung, melahirkan hingga menyusuinya telah terbayar lunas dengan pengorbanan yang telah ia lakukan tersebut? Rosul menjawab, “Tidak!” Lalu Rosul melanjutkan dengan berkata bahwa pengorbanan yang dilakukan oleh seorang anak tadi jauh berbeda dengan pengorbanan sang ibu. Sang ibu merawat anaknya dengan doa dan kasih sayang tulus, sedangkan seorang anak tersebut merawat ibunya dengan pengharapan dan doa agar diperpendek umur ibunya.

Sahabat, jangan berlaku sombong terhadap seorang ibu! Karena keberhasilan dan kesuksesan yang Anda dapat tak luput dari doa beliau. Jangan sombong, karena gunung emas yang Anda berikan pun tidak akan pernah bisa mengembalikan setetes air susu ibu yang telah Anda minum!

Seringkali kita lupa, bahkan tak jarang tanpa sadar kita melukai hati ibu dengan berkata, “Ah!” atau “Nanti saja!” saat beliau memberikan perintah, atau bahkan hanya sekedar memanggil. Padahal berkata “Ah!” saja Alloh larang dalam ayatNya;

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.TQS Al Israa [17:23]

Sahabat, apakah ibu Anda masih hidup? Apakah bapak Anda masih hidup? Minta maaflah kepada mereka! Apakah Anda dekat dengan ibu Anda? Kalau iya, maka Anda adalah orang yang beruntung. Peluklah beliau! Peluk erat seraya berkata, “Maafkan aku, Ibu!”, lalu beritahu beliau, “Aku cinta Ibu!”

Bagi yang sedang jauh dari ibu, angkat telepon, hubungi beliau! Jangan ragu untuk meminta maaf kepada beliau! Ingat sahabat, bahwa surga kita ada di telapak kaki beliau! Meski surga seorang istri ada pada suami, namun bagi Anda yang menjadi seorang istri tetap berkewajiban untuk menghormati dan mencintai seorang ibu! Kesempatan memeluk erat, mencium, melihat senyum tawa seorang ibu, meminta maaf juga ridho ibu adalah kesempatan berharga yang tidak semua orang punya. Untuk itu bagi Anda yang dikaruniai ibu yang masih hidup, jangan tunda lagi untuk meminta maafnya! Dedikasikan hidup Anda untuk islam dan untuk bakti kepada ibu juga bapak! Jangan bosan untuk mempersembahkan kata “Maafkan aku, Ibu!” dan “Aku cinta Ibu” setiap hari!

Bagi Anda yang ibunya telah meninggal dunia, jangan bersedih! Anda tetap memiliki kesempatan untuk berbakti kepada beliau dengan mempersembahkan doa anak yang sholeh/sholeha setiap waktu! Karena doa Anda (yang sholeh/sholeha) adalah salah satu amalan yang tak akan putus kepada ibu atau orang tua Anda yang sudah meninggal dunia.

Yah, itulah gempuran-gempuran tausiyah yang membuat saya menangis malam itu. Apalagi bila mengenang banyaknya kata “Ah!” atau “Sik!” (nanti dulu, bahasa jawa) yang saya lontarkan kepada ibu saya. Ngapunten nggih, Mbok! Kula mung saged ndamel njenengan nangis! (Maaf ya, Bu! Saya hanya bisa membuat Ibu menangis!) Bagaimanapun, ibu adalah orang nomor satu. Cintailah ibu!

Masih berkenaan dengan ibu, saya punya file mp3 deklarasi puisi tentang ibu yang saya upload di akun 4shared saya, yang bisa Anda download di sini.

Senang bisa berbagi, meski hanya artikel. Semoga bermanfaat, terimakasih.

15 thoughts on “3 huruf yang sukses membuatku menangis…

  1. iyalah yang bener Allah.tadinya aq kira typo alias salah ketik.eh ternyata semuanya ditulis gitu.tadinya mau baca artikelnya malah g jadi deh soalnya langsung ilfeel -_-

    1. Terimakasih atas masukannya, sebenernya dulu penulisan saya memang menggunakan huruf a, namun daku berpikir kok sepertinya kalau ditulis a menyerupai sebutan tuhan bagi kaum nashara, padahal memang penyebutan Allah tidak dibaca tipis, namun tebal (lam jalalah tebal)😀 jadi hampir-hampir menyerupai a+o sehingga saya menuliskannya pakai huruf o. Memang sih, menurut EYD kata bakunya menggunakan a, namun saya kok kurang sreg gitu kalau pake a. Yah, semoga mbak purple.hyomi bersedia membaca artikel ini dengan memberikan perasaan huruf a saat membaca o pada kata Alloh.

  2. mendadak berkaca-kaca baca tulisan ini. pikiran jadi melayang ke Ibu ku. heheheh… nice post.. =)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s