Kalbu

Gelar mulia tersebut adalah S.Pd…

Beberapa istilah penting dalam hidup, dalam pandangan kondisi saat ini tak lepas dari gelar, jabatan, pasangan dan harta. Ya kurang lebih 4 hal itulah yang saat ini menjadi patokan sukses tidaknya kehidupan seseorang, dalam pandangan zaman yang serba hedonis saat ini. Empat istilah tersebut sudah urut berdasar tahap-tahap pertumbuhan manusia, sekali lagi dalam pandangan kehidupan hedonis saat ini.

Manusia lahir dan tumbuh, pasti menjajaki dunia pendidikan. Capaian pertama adalah pendidikan. Saya agaknya ragu menyebut pendidikan sebagai capaian awal. Lebih tepatnya gelar mungkin, ya. Karena apa, sudah jadi mindset, kalau anak bersekolah bukan untuk mendapat ilmu, tapi mendapatkan pekerjaan. Bukan didasari atas kebutuhan ilmu dan wajibnya menuntut ilmu, tetapi lebih kepada kemudahan dalam mendapatkan pekerjaan setelah lulus nanti. Inilah salah satu capaian sukses sistem sekuler kapitalistik dalam merubah pandangan masyarakat kita tentang arti pendidikan. Padahal islam dengan kemuliaannya memandang bahwa menuntut ilmu adalah kewajiban bagi manusia. Kalau pun boleh jujur, kerja tidak melulu butuh yang namanya gelar.

Setelah gelar tinggi tercapai, menurut peraturan sekuler kapitalistik, capaian yang kedua adalah jabatan. Ini jelas, karena gelar adalah modal untuk mendapatkan pekerjaan. Sekuler kapitalistik memandang seseorang itu sukses dalam pekerjaan bila memiliki jabatan yang tinggi. Terkesan materialistik? Ya memang itulah watak sistem sekuler kapitalistik.

Sebentar, dari tadi kita berbicara tentang sekuler kapitalistik, sudah tahu belum nih pengertian sekuler kapitalistik? Sebagai informasi singkat saja, sekuler adalah sistem pemisahan agama dari kehidupan. Maksudnya adalah sistem dimana agama manapun tidak boleh mengatur kehidupan, tidak boleh menjadi peraturan bermasyarakat dan bernegara. Indonesia adalah salah satu negara yang menganut sistem sekuler. Kata yang kedua adalah kapitalistik. Akhiran -istik dari kata kapital menunjukkan kata sifat. Sifat dari kapital. Kapital sendiri menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) adalah modal; perniagaan. Kapitalistik, berarti sifat yang mementingkan kaum bermodal atau berduit. Jadi bisa disimpulkan bahwa sekuler kapitalistik adalah sistem pemisahan agama dari kehidupan yang memihak para pemilik modal atau kaum berduit. Ya, yang saat ini dianut oleh kebanyakan negara di dunia, berakar dari ideologi kapitalisme.

Setelah gelar dan jabatan berada di tangan, capaian ketiga adalah pasangan. Jelas, bahwa segala hal itu diciptakan berpasang-pasangan. Ada laki-laki, ada perempuan. Ada suami, ada istri. Suka-duka, tinggi-rendah, baik-buruk, dsb. Begitu pula manusia, butuh yang namanya pasangan hidup. Sudah barang tentu semua orang menginginkan pasangan hidupnya adalah sosok yang baik. Namun dalam pandangan hedonis, pasangan yang baik adalah pasangan yang cantik/tampan, juga berlimpahan harta.

Gelar tinggi. Jabatan tinggi. Pasangan cantik/tampan. Ditambah dengan harta melimpah sudah sangat bisa dibilang sukses sempurna dalam pandangan sekuler kapitalistik. Hal ini jauh berbeda dengan islam. Islam memandang bahwa orang yang sukses adalah seorang muslim yang menjalankan fungsi penciptaan manusia itu sendiri, yakni ibadah demi menggapai ridho Alloh Subhanahu Wata’ala. Yang sukses secara hakiki adalah sukses di akhirat. Seperti firman Alloh berikut:

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?” – TQS Al An’am [6:32]

Berbicara tentang gelar, di Indonesia mengenal banyak jenis gelar. Sebenarnya gelar sendiri ada beberapa jenis, ada gelar akademik, gelar jabatan pemerintah, dll. Namun yang paling populer adalah gelar akademik, seperti: M.H; M.Pd; M.T; M.E; S.E; S.Pd; S.Kom; S.H; S.Ag; S.K.G; dan masih banyak lagi.

Gelar akademik tersebut adalah gelar yang ditempuh melalui pendidikan formal. Namun, tahukah sahabat bahwa ada gelar mulia yang tidak didapatkan di bangku studi formal? Gelar mulia yang tidak memandang jenjang pendidikan. Gelar yang tidak juga memandang materi. Gelar mulia yang tidak semua orang mau menerimanya. Dan gelar mulia tersebut adalah gelar yang membutuhkan pengorbanan waktu, tenaga, harta, bahkan nyawa sekalipun. Karena nilai gelar yang mulia ini, maka seseorang yang menyandang gelar ini pun tidak main-main. Mereka dituntut ikhlas dan totalitas dalam berkorban. Gelar yang bukan merupakan hasil dari selesainya studi, namun gelar yang justru disandang selama seseorang itu melakukan sesuatu. Apakah gelar mulia yang dimaksud?

Gelar mulia tersebut adalah S.Pd. Yang dimaksud S.Pd disini bukan Sarjana Pendidikan. Tapi jangan diartikan bahwa seorang sarjana pendidikan itu tidak mulia, ya! S.Pd bukan kepanjangan dari “Siswa Penuh Derita”, bukan pula “Shorting Packaging and Distributing”. S.Pd yang dimaksud adalah “Seorang Pengemban Dakwah”. Dakwah islam, tentunya.

Banyak sekali dalil yang mewajibkan umat muslim untuk berdakwah. Tentunya mendakwahkan islam. Seperti pada ayat:

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalanNya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” – TQS An Nahl [16:125]

“Dan bacakanlah apa yang diwahyukan kepadamu, yaitu kitab Tuhanmu (Al Quran). Tidak ada (seorangpun) yang dapat merobah kalimat-kalimat-Nya. Dan kamu tidak akan dapat menemukan tempat berlindung selain dari padaNya.” – TQS Al Kahfi [18:27]

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” – TQS Ali Imron [3:104]

“Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.” – TQS Az Zariyat [51:55]

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Alloh, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” – TQS Fushshilat [41:33]

Dakwah adalah menyeru, menyampaikan, mengajak kepada islam. Islam yang diperintahkan Alloh dengan mencontoh tindak tanduk Rosululloh Muhammad, Sholallohu alaihi wasallam. Selain bernilai pahala, dakwah adalah perwujudan rasa peduli dan kecintaan kita kepada sesama. Kita tahu dan yakin bahwa tiada kemuliaan tanpa islam. Islamlah agama yang haq, yang merupakan satu-satunya agama yang diridhoi Alloh. Dengan mendakwahkan islam kepada orang lain – bagaimana seharusnya manusia menjalani kehidupan sesuai aturanNya – itu berarti kita mengajak orang lain untuk bersama-sama dalam kebahagiaan, keselamatan dan keberkahan. Bukankah ini bentuk kecintaan yang nyata?

Tak ada kerugian sedikit pun bagi seorang pengemban dakwah. Hanya ada 2 kemungkinan kan bila kita berdakwah? Bisa diterima, atau ditolak. Namun terlepas dari kemungkinan tersebut, seorang pengemban dakwah tetaplah beruntung. Kenapa? Karena baik dakwahnya diterima ataupun ditolak, Alloh tetap menjanjikan pahala yang besar.

“Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” – TQS Muhammad [47:7]

“Siapa saja yang menyeru manusia pada petunjuk (islam), dia pasti akan mendapatkan pahala sebagaimana pahala yang diperoleh orang yang mengikuti petunjuk itu tanpa mengurangi sedikit pun pahalanya.” – HR. Ahmad, Muslim, Abu Dawud, At Tirmidzi, An Nasa’i, Ibn Majah

“Demi Alloh, sungguh satu orang saja diberi petunjuk (oleh Alloh) melalui perantaraanmu, maka itu lebih baik dari unta merah.” – HR. Bukhori, Muslim

Bagaimana? Tertarik untuk mendapatkan gelar S.Pd tersebut?

Lalu kemuliaan gelar S.Pd apa? Mereka mulia, karena selain memikirkan diri sendiri, mereka juga memikirkan orang lain. Ini terbukti bahwa seorang pengemban dakwah sadar bahwa kondisi kaum muslim saat ini sangat terpuruk. Harus ada yang menyeru kepada perubahan islam. Sama seperti orang-orang pada umumnya bahwa mereka memiliki kesibukan masing-masing. Ada yang masih sekolah, ada yang pekerja, namun mereka masih meluangkan waktunya untuk dakwah. Bukankah ini suatu hal yang mulia?

Sahabat, tak cukupkah keterpurukan dan problematika umat yang saat ini menimpa kaum muslim untuk menggerakkan hati dan pikiran kita? Umat butuh perubahan, tentu perubahan kepada islam. Kepada tegaknya islam, dimana syariatnya ditegakkan dalam kehidupan. Umat butuh banyak kader dakwah. Mari kita manfaatkan waktu kita untuk berjuang di jalan Alloh. Betapa bahagianya bila sisa umur kita yang tidak kita ketahui kapan berakhir ini kita manfaatkan untuk berdakwah. Selain memenuhi kewajiban, dakwah juga menjadikan kita mulia.

Lebih lanjut tentang kriteria dakwah yang benar dan metode dakwah yang shohih, insya Alloh akan dilanjut pada kesempatan mendatang. Terimakasih telah sudi membaca hingga akhir, mari berjuang dan tetap semangat!

Advertisements

15 thoughts on “Gelar mulia tersebut adalah S.Pd…

  1. bukan cuma dalam hal akademik yang bergelar.. orang haji pun ditambah H,
    menurut ana bukan gelar apa yang disandangnya, tapi bagaimana ia mendapatkan gelarnya dan apa yang dilakukannya setelah mendapat gelar. Menjadi yang unggul, atau ikut arus??
    Karena sistem pendidikan kita yang hanya mempertimbangkan nilai akademik dan modernisasi maka hasilnya adalah intelektual pandai tanpa tautan agama..
    sudah saatnya sistem pendidikan berbenah, dari materialistik ke sistem sistem yang lebih baik 🙂

    1. betul betul betul! meskipun gelarnya hebat, tapi kalau dalam masyarakat tidak bermanfaat ya cape deh~ begitu pula jabatan, buat apa menjabat sebagai pemerintah kalau nggak memperjuangkan syariah, hehe

  2. eh tulisan kamu bagus chin, mw jd penulis di eramuslim atau di dudung.net juga? 😀

    ada lagi chin tambahan ayatnya,
    “Dan bersabarlah kamu bersama dengan orang-orang yang menyeru Rabbnya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (Al-Kahfi: 28)

  3. semoga mendapat ilmu yang bermanfaat, nilai itu tidak penting yg penting prosesnya,#pernah denger..

    Yang lagi terngiang ngiang~

    1. Allohumma amiin, terimakasih banyak doanya, soal hasil itu hak Alloh memang, manusia diminta untuk berusaha, berusaha semaksimal mungkin untuk menjalankan tugas seorang hamba 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s