Kalbu

Menunggu bidadari…

Kalau ada pertanyaan: Kegiatan apa yang paling membosankan? Pasti tak sedikit yang menjawab: Menunggu. Ya memang benar juga sih, menunggu itu suatu hal yang membosankan, menjemukan dan membuang waktu. Terlebih bila yang ditunggu-tunggu tak tahu kepastiannya. Agaknya hal ini juga sama dirasakan ketika menunggu bidadari. Ehem.

Kalau bicara menunggu bidadari, pasti yang menggebu-gebu adalah para jomblowan dan jomblowati. Tak terkecuali saya sendiri, ehehe.

Saya kok jadi S3 gini ya? Senyum-senyum sendiri (S3). Ya wajarlah, namanya juga anak muda yang lagi puncak-puncaknya gampang jatuh. Jatuh hati maksudnya.

Meski menunggu begitu menjemukan, ada hal-hal yang bisa kita lakukan untuk mengisi waktu tunggu. Misalnya pas nunggu nasi di ricecooker mateng nih. Paling nggak kalau masak berasnya 1 gelas kan sekitar 20 menitan tuh, kita manfaatin aja untuk mengerjakan hal lain. Kalau cuma duduk di depan ricecooker sambil melototin ricecooker mah emang bosen banget. Coba kalau nunggunya sambil nonton tv, baca koran, ngulek bumbu (soalnya mau sekalian masak sayur), telpon ibu di kampung halaman, nyapu lantai, nyuci piring, beli mi (anak kos banget), dan masih banyak kegiatan lain yang bermanfaat. Maka waktu yang 20 menit itu akan terasa 5 menit. Enak kan, nasi mateng bersamaan dengan sayur mateng (bagi yang nunggu sambil masak sayur). Tinggal makan deh langsung, hmm. Bagi yang nyapu lantai, pas nasi mateng, ruangan bersih, nyaman deh buat makan. Dan sebagainya.

Inipun berlaku bagi para penunggu bidadari. Di sinilah sang pemilik bidadari menguji kita. Menguji seberapa kuat daya tahan kita. Ya kalau kita menunggunya hanya dengan berawang-awang, melamun, lalu berdiam diri, pasti jenuh. Harusnya sama dengan menunggu nasi matang tadi. Kita gunakan nih waktu tunggu dengan menimba ilmu, mengukir prestasi gemilang, melakukan riset misalkan, mengajak banyak orang untuk berdakwah, dan masih banyak lagi kegiatan positif lainnya. Bukan malah nongkrong-nongkrong tanpa tujuan, ngobrolin sesuatu yang nggak jelas, trek-trekan, mabuk-mabukan, hura-hura, ngabisin duit orang tua, tawuran, pacaran, dan masih banyak juga kegiatan negatif lainnya.

Eit, tunggu dulu! Kok di deretan kegiatan negatif tadi ada kata-kata “pacaran”? Emang pacaran hal yang nggak bener?

Saya yakin tanpa disampaikan pun, banyak pemuda-pemudi muslim yang sudah paham hukum pacaran. Ya, memang mereka tahu. Tapi mereka tidak mengindahkan. Hati-hati lho kawan! Saya khawatir, yang begini ini bisa disetarakan kedudukannya dengan orang fasik. Kenapa? Karena orang fasik salah satu cirinya adalah orang yang tahu hukum, namun tidak melaksanakan hukum itu. Naudzubillah.

Memang benar kata Rosul dalam hadist riwayat Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah, bahwa akan datang masa dimana orang yang bersabar dan memegang teguh islam bagaikan menggenggam bara api. Siapa yang nggak teguh mengamalkan islam, maka akan lepas. Namun bagi orang yang tetap sabar dan teguh memegang islam, ia akan merasakan panas. Berbagai cercaan, fitnah, tuduhan, dan masih banyak lagi.

Termasuk dalam proses menunggu bidadari ini, sahabat! Bagi jomblower yang teguh terhadap islam, mereka tidak akan pacaran! Bukan karena mereka tidak laku atau tidak bisa punya pacar, tapi karena mereka dengan yakin dan teguh memegang aturan islam dalam pergaulannya. Dimana islam tidak membolehkan berdua-duaan dengan yang bukan mahrom, atau disebut “khalwat”, islam juga melarang mendekati zina, islam juga melarang ikhtilat, atau campur baur antara laki-laki dan wanita bukan mahrom dalam wilayah pribadi.

Ada yang bilang, “Kalo nggak boleh dua-duaan, empat-empatan deh!” Tetap saja kalau empat-empatan pun dengan anggotanya 2 laki-laki dan 2 perempuan yang masing-masing bukan mahrom dengan niatan pacaran mah namanya berkhalwat! Sama aja dengan mendekati zina berjama’ah. Bukankah firman Alloh sangat jelas dan gamblang: “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” – TQS Al Israa’ [17:32]

Tuh kan, mendekati zina aja nggak boleh, apalagi ngelakuin zina. Karena yang namanya zina, pasti diawali dengan pendekatan-pendekatan ke arah tersebut. Selain itu Rosul juga bersabda: “Janganlah sekali-kali seorang pria dan wanita berkhalwat, kecuali jika wanita itu disertai mahromnya” – HR. Bukhori Muslim.

Nah, kalau sudah jelas bahwa khalwat/berdua-duaan/pacaran itu dilarang oleh Alloh dan Rosululloh, masak sih kita yang notabene ciptaan Alloh dan pengikut Rosululloh masih saja melakukan?

Jadi intinya, pacaran itu dilarang? Yak, benar sekali! Yang melarang bukan saya lho ya, tapi Alloh dan Rosul. Selain itu, kita harusnya sebagai muslim yakin, bahwa Alloh lebih tahu mana yang baik untuk manusia. Juga dalam hal pergaulan ini.

Agaknya sudah lazim di masyarakat kita saat ini bahwa pacaran adalah sesuatu yang dibutuhkan sebelum menjajaki pernikahan. Alasan-alasan yang membolehkannya pun banyak beredar. Alasan yang paling kuat di masyarakat adalah untuk mengenal lebih jauh calon pasangan. Yang perlu digaris bawahi adalah, jangan pernah menggunakan tolak ukur sesuatu dari opini masyarakat secara umum, karena pandangan masyarakat belum tentu pandangan yang benar. Tetapi jadikan Qur’an, Sunnah, juga sumber hukum islam yang lain sebagai sumber hukum bagi apapun itu. Jelas, karena kita sebagai muslim, harus mutlak terikat dengan aturan islam. Tolak ukur halal-haram islamlah yang harus kita jadikan pegangan.

Lagi pula, dengan pacaran seseorang tidak dapat benar-benar mengenal calon pasangannya. Tetap saja kita akan benar-benar mengenali pasangan ketika sudah menikah. Terlepas dari alasan tersebut, haruslah kita menolak pacaran karena Alloh dan Rosul lah yang melarang.

Sejatinya dalam islam, kehidupan laki-laki dan wanita itu terpisah. Mereka baru disatukan ketika berada di rumah tangganya. Sehingga dalam islam, laki-laki hanya beraktivitas dengan kelompok laki-laki, begitu juga wanita. Jika “keinginan itu” sudah muncul dan kuat, maka harus tetap disetir oleh islam. Maka tak heran bila dalam islam yang sesungguhnya, laki-laki tidak punya banyak teman wanita. Karena itu saat ingin menikah, ia meminta seseorang untuk dikenalkan dengan wanita-wanita yang juga ingin menikah. Setelah itu diadakanlah ta’aruf, atau acara kenalan dengan tetap menaati larangan khalwat. Yakni dengan ditemani mahrom masing-masing.

Mari sejenak kita bandingkan kondisi pemuda muslim sekarang dengan pemuda muslim masa kekhilafahan, dimana islam dijadikan sumber hukum formal. Tengoklah nama-nama cendekiawan dan ilmuwan muda muslim kala itu, ada Imam Syafii, al-Khawarizmi, al-Kindi, ibnu Sina, dan masih banyak lagi. Imam Syafii misalnya. Beliau hafiz Qur’an usia 12 tahun. Tak lain dan tak bukan kondisi ini dipengaruhi oleh lingkungan, serta peraturan yang menerapkan islam sepenuhnya saat itu. Ini tentu jauh berbeda dengan kondisi pemuda muslim era sekarang. 12 tahun bisa apa? Apa yang bisa dibanggakan? Ya memang, banyak juga kok yang hafiz Qur’an. Tapi lebih banyak mana dengan yang 12 tahun sudah kenal pacaran? Sudah berani membantah orang tua? Lebih banyak mana dengan yang lebih menyeringkan diri ngegame dibanding ramai di masjid? Keberhasilan di era khilafah tak bisa dielakkan juga dari sistem pemerintahan yang sangat baik, karena 100% menerapkan syariah islam. Karena sistem pergaulannya yang syar’i, maka tak heran bila pemudanya lebih banyak menghabiskan waktunya mengukir prestasi. Bukan seperti saat ini, pemudanya lebih banyak yang menghabiskan waktu dengan pacaran, pokoknya bahasannya cinta-cintaan lah.

Demikian ungkapan hati dan pikiran saya tentang menunggu bidadari. Semoga bisa diambil nilai positifnya. Bagi pembaca yang tersinggung, ya selamat memperbaiki diri. Bagi pembaca yang sepakat dengan apa yang saya sampaikan ini, semoga menjadi bukti bahwa masih ada kok yang nggak mau pacaran, hehe.

Pesan saya kepada Anda yang sedang atau akan pacaran, hentikan dan jangan lakukan aktifitas pacaran, segera! Terutama Anda, pemuda muslim! Bila memang sudah ingin menikah, ya silakan menikah! Kalau memang belum siap atau belum sanggup, maka hindari yang namanya pacaran! Jangan takut kehabisan stok, karena semua orang punya jodoh masing-masing. Jangan takut dicap nggak normal, karena normal menurut pemahaman orang itu bukan normal menurut islam. Jangan takut dibilang nggak laku, karena Alloh selalu memberikan yang terbaik bagi hambaNya. Ingat pesan suri teladan kita, “Barang siapa yang sudah mampu (menafkahi keluarga), hendaklah ia menikah, karena menikah lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Barang siapa yang belum sanggup menikah, maka hendaklah ia berpuasa, karena puasa itu adalah benteng baginya.” – HR. Bukhori.

Advertisements

19 thoughts on “Menunggu bidadari…

  1. saya pernah, dan saya menyesal.. huhuhu…

    saya setuju, bahkan saya pernah diceritain, anak SD malah lebih suka ngaji ke pacarnya dari pada ke ustad. karena apa? kata dia karena jika ngajinya lancar bakalan dapat cium dari pacarnya. astagfirullah..
    peran hukum dan keluarga seharusnya sebagai sumber pendidikan.. yang kayak begitu g cuma satu, tapi banyak sekali. dan kalau ditanya agamanya apa? islam. naudzubillah

    1. Wah, alhamdulillah kalau sudah kembali ke jalan yang benar :p
      Ini salah satu bukti bahwa harus ada peran negara untuk menerapkan kehidupan islam, termasuk sistem pergaulan di dalamnya. Tak lain dan tak bukan negara yang menerapkan islam sebagai ideologinya.

    1. Jadi malu nih. Kalau berkenan, silakan hadir akhi, nanti akad nikahnya tgl 3 September 2011, insya Alloh. Lebih jelas nanti ana email deh, hehe

  2. .subhanallah… ociiin, pngn nangeees baca smuanya, bnr2 mnginspirasi, tmbah mnyadarkan, moga tersadar, aamiin 😀

    .selamat y, moga kluarga kecil ocin slalu dlm lindunganNya, mnjadi kluarga samara, aamiin 😀

    1. terimakasih banget ya tik, kalau ada yang baik, silakan diambil, yang nggak baik itu dari saya 😀 doanya terimakasih banget, semoga dirimu juga selalu istiqomah di jalanNya, dan selamat menjadi bidadarinya laki2 sholih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s