Kalbu

Mendapatkan istri sholiha itu menyenangkan, andai engkau mengetahui…

Sungguh beruntung lelaki yang mendapatkannya. Ia menjadikan seorang lelaki fakir menjadi kaya, karena ia adalah sebaik-baik perhiasan. Sungguh beruntung!

Teramat bahagia lelaki yang mendapatkannya. Ia menenteramkan hati seorang lelaki yang hampa akan kasih sayang murni. Memenuhinya dengan cinta yang tak lebih banyak dari cinta kepada Rabbnya. Sungguh bahagia mendapatkannya!

Memang menyenangkan bersanding dengannya. Ia hanya berani menampakkan keindahannya kepada lelaki yang menjadi suaminya. Karena ia memiliki keteguhan prinsip bahwa suaminyalah manusia satu-satunya yang berhak atasnya!

Luar biasa nikmat mendapatkannya. Ia yang dengan ikhlas dan yakin menjadikan islam sebagai landasan berpikir dan beraktifitas. Ia tak hanya memaknai islam sebatas agama ritual yang menyalurkan naluri insani mensucikan Yang Maha Kuasa, namun ia memahami bahwa islam adalah jalan hidup yang memancarkan aturan-aturan dalam berhubungan denganNya, dengan dirinya, dan dengan sesamanya.

Tiada terkira rahmat Allah yang satu ini. Satu, namun bernilai tinggi di hadapan Allah. Karena rahmat yang satu ini adalah seorang hamba yang cantik hati dan perangainya. Yang selalu meminta izin suaminya apabila ingin keluar rumah untuk hal yang tidak biasa, sebab restu suami adalah utama bagi seorang istri. Ia tahu dan mengerti, bagaimana menjaga diri ketika di luar rumah. Ia nampak cantik dengan aura kemuslimannya dalam balutan jilbab dan kerudung syar’i, serta kaos kaki yang menutupi seluruh auratnya. Ia tidak bertabaruj, dan tidak berusaha menampakkan keindahannya. Ia berbaur hanya dengan mahromnya dan menjaga jarak dari selainnya. Setiap gerak-geriknya adalah cerminan seorang hamba yang sadar bahwa dirinya tak lepas dari pengawasan Sang Maha Melihat. Ia sangat tunduk terhadap syariat Allah yang ditaklif kepada insan yang berjuluk muslimah.

Memang beruntung. Sungguh beruntung mendapatkannya. Kewajiban suami mendidik dan menjaga kehormatan istrinya tak akan dirasa payah, karena sebelum mendapatkannya, bekal ilmu yang digali semasa belum menikah – dimana muslimah seusianya disibukkan dengan maksiat kepada Allah – telah cukup menjadikannya hamba Allah yang mengerti perintah dan larangan Allah, serta hak dan kewajiban seorang istri. Sehingga ia benar-benar pantas menjadi ummu warobatul bayt.

Sebelum kau perintahkan ia untuk berhijab demi menjalankan perintah Allah serta menjaga kehormatan seorang wanita muslim, ia terlebih dahulu menaatinya. Sebelum kau memintanya agar hanya berdandan untukmu, ia dengan sigap selalu menampakkan wajah cantik dan penampilan menarik ketika ia hanya berdua denganmu. Sebelum kau bermaklumat kepadanya untuk menundukkan pandangan, sejatinya sejak lama ia telah menundukkan pandangan dan menjaga kemaluannya atas perintah Allah.

Sebelum kau menyarankannya untuk merendahkan suara ketika berbicara, ia sudah tahu. Dan ia pun mafhum untuk tidak sekali-kali merendahkan suara saat menghadapi kemungkaran. Maka, takkan sekali pun ia mentolerir perbuatan maksiatmu. Ia akan mengingatkan bahkan menegurmu saat kau menyimpang dari jalanNya. Bergegaslah ia menasehatimu saat kau dalam kondisi itu. Suaranya yang lembut akan membantumu bangkit dari kelemahan iman. Satu lagi anugerah terbesar selain iman dan islam yang kau miliki. Anugerah yang menjauhkanmu dari azab neraka dan mendekatkanmu dengan surga.

Ia bukanlah seorang yang egois dan acuh terhadap sekitar. Karena sekali lagi, ia tahu dan mengerti betul perannya di dunia ini, yang tak lain untuk menghamba kepada Dzat Yang Maha Mulia. Ia tidak menutup mata atas keterpurukan umat karena mengabaikan hukum Allah. Ia rela berkepayahan dalam usahanya menegakkan kalimat Allah. Ia juga mencurahkan segala pikiran, tenaga, harta dan jiwanya di jalan dakwah. Sungguh pandai, ia tak mau melewatkan ladang pahala dakwah, dan berusaha menjauhi jurang dosa dengan menyibukkan diri dalam aktifitas dakwah. Ia pun tahu, bahwa berdakwah bukan berarti boleh lalai terhadap kewajiban mendidik anak, melayani suami dan mengatur domestik rumah tangga.

Siapakah dia? Dialah wanita sholiha. Muslimah sholih, sebaik-baik perhiasan dunia. Muslimah yang dengan kesholihannya membuat para bidadari cemburu padanya. Karena sesuai janji Allah – wanita baik hanyalah untuk laki-laki yang baik pula – hanya lelaki sholihlah yang akan mendampinginya. Lelaki yang juga menghamba kepada Allah secara total. Yang juga tahu betul tujuan ia diciptakan, dari mana dan akan kemana ia hidup.

Ada kalanya ia melakukan suatu kesalahan, karena memang wanita sholiha adalah manusia. Yang secara fitrah memiliki sifat lupa dan lalai. Namun yang membedakan ia dengan wanita yang lain adalah ketika ia lupa dan lalai, bersegeralah membenahinya dan meminta ampun kepada Allah.

Ada kalanya terpercik amarah dalam hatinya, karena sekali lagi, wanita sholiha adalah manusia. Namun ketika akan memuncak, ia segera ingat sabda Rosul yang melarang marah yang bukan pada tempatnya. Seraya ia bermuhasabah, “Adakah alasan syar’i yang mengharuskanku marah?” Kalau tidak, maka ia pun mendinginkan amarah tersebut dan memohon ampun kepada Allah. Sungguh, nafsu emosi sulit menguasainya. Beruntung sekali mendapatkannya.

Ia memang manusia yang juga memiliki kekurangan, yang tak semua kriteria sholih ia miliki. Namun seorang wanita sholiha tentu senantiasa memperbaiki diri dan meningkatkan kesholihannya, dengan tanpa mengabaikan kewajiban-kewajiban yang diamanahkan Allah, seperti mendakwahkan islam kepada orang lain. Tidak lantas merasa belum sholih, kemudian berhenti berdakwah dan menunggu sampai benar-benar sholih terlebih dahulu. Karena berdakwah dan memperbaiki diri sama-sama kewajiban yang keduanya harus dilakukan.

Sekiranya boleh kita tengok lelaki yang tidak bersanding dengannya. Alangkah malangnya ia. Terlebih lelaki tersebut belum begitu tahu amanah besar yang Allah bebankan kepada seorang suami. Yang harus menafkahi istri dan keluarga, menjaga kehormatan istri dan keluarga, menyayangi istri dan keluarga, mendidik istri dan keluarga, meluruskan istri ketika salah, dan sebagainya. Jika ia tidak bersanding dengan wanita sholiha, berarti ia bersanding dengan wanita yang bukan sholiha. Sudah tentu, teramat sulit mengayomi wanita tersebut. Ketika wanita tersebut dipimpin oleh pemikiran yang tidak islam, maka akan sulit menerima perintah-perintah islam. Serta tidak memiliki kesadaran islam. Ketika suami memerintahkan untuk berhijab saat keluar rumah, yakinlah ia pasti menolak. Atau kalau tidak, ia memang berhijab, namun tidar syar’I, tidak ikhlas dan terpaksa. Lebih-lebih bila ia belum memiliki pemahaman bahwa perintah suami adalah yang utama bagi seorang istri. Bisa kacau rumah tangga kalau sudah begini. Bagaimana Allah bisa memberkahi rumah tangga kalau di dalamnya tidak ditegakkan syariat-syariat Allah. Memang benar sabda Rosul bahwa dalam mendapatkan pasangan, kriteria utama yang harus dipilih adalah karena agamanya. Yang dimaksud di sini adalah kesholihannya. Karena yang sholih itu pasti berkah. Kesholihannyalah yang akan membuat rupa, harta, dan keturunan kita pun berkah.

Ya Allah, berikanlah hambaMu ini wanita yang benar-benar sholiha sebagai pendamping hidup yang singkat ini. Ya Allah, jadikanlah keturunan kami keturunan yang sholih-sholiha, yang senantiasa menjadikan islam sebagai jalan hidup kami. Aamiin.

8 thoughts on “Mendapatkan istri sholiha itu menyenangkan, andai engkau mengetahui…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s