Kalbu

Qadriyah ghaibiyah…

Al-Qadriyah al-ghaibiyah adalah sikap berserah diri kepada qadar dan mengembalikan segala sesuatu yang dihadapi manusia dalam kehidupan ini kepada ketentuan gaib dan mitos bahwa perbuatan manusia tidak mempunyai pengaruh apa-apa. Perbuatan manusia tak lain adalah musayyar (dikendalikan), diarahkan oleh kekuatan gaib tanpa dapat memilih, bagaikan bulu yang diterbangkan oleh angin ke mana pun arahnya.

Ide tersebut telah menyebar dan merasuk dalam pembahasan akidah, sejak zaman Khilafah Abbasiyyah dan berlanjut hingga sekarang. Kewajiban beriman kepada qadha’ dan qadar telah dijadikan sebagai sarana untuk memasukkan ide ini ke tengah-tengah kaum muslim. Akibatnya, muncul orang-orang gagal berusaha, lalu menisbatkan dirinya kepada ide tersebut, sekaligus menjadikannya sebagai alasan kegagalan mereka. Begitu pula orang-orang malas dan bodoh, telah menisbatkan dirinya kepada ide tersebut, sekaligus menjadikannya sebagai dalih untuk membenarkan kemalasan dan kebodohan mereka, sehingga banyak orang yang bersikap pasrah pada kezaliman yang menimpa mereka, kemiskinan yang mencabik-cabik kehidupan mereka, kehinaan yang melanda mereka dan kemaksiatan yang mendominasi perbuatan mereka. Sikap ini disebabkan merasuknya ide tersebut, ketika ide tersebut dijadikan akidah. Mereka menganggap bahwa tindakan ini merupakan penyerahan diri kepada qadha’ dan qadar yang berasal dari Allah.

Ide ini masih mendominasi pemikiran dan tingkah laku kaum muslim. Padahal, kalau masalah ini dicermati, akan kita ketahui bahwa ide al-Qadriyah al-ghaibiyah ini tidak pernah ada dalam zaman sahabat, bahkan tidak pernah terlintas sama sekali. Seandainya para sahabat mengikuti ide seperti ini, tentu mereka tidak pernah mengembangkan islam dan menaklukkan negeri/daerah baru, dan tidak akan mempersulit diri. Sebaliknya, akan membiarkannya diarahkan ke mana saja. Mereka pun akan berkata sebagaimana yang dikatakan orang-orang sesudahnya, “Apa yang telah ditakdirkan pasti akan terjadi, baik Anda berbuat maupun tidak.” Namun kenyataannya, kaum muslim yang bijak dari kalangan sabahat pada saat itu telah memahami benar, bahwa benteng tidak akan bisa ditaklukkan tanpa pedang (perang); musuh hanya bisa dikalahkan dengan kekuatan; rizki akan diperoleh dengan usaha; penyakit harus dihindari; pencuri harus dipotong tangannya; penguasa harus dimintai pertanggungjawabannya dan manuver-manuver politik harus diciptakan dan dilakukan terhadap musuh. Tidak mungkin mereka meyakini yang lain, sementara mereka telah menyaksikan langsung pasukan kaum muslim di bawah pimpinan Rosulullah sholallahu alaihi wasalaam telah dikalahkan pada saat Perang Uhud, akibat pasukan panah menyalahi perintah panglima (rosul), serta menyaksikan kemenangan pada Perang Hunain, setelah mereka nyaris kalah karena pasukan yang melarikan diri dari medan perang – akibat takut serangan panah – telah kembali bertempur lagi ketika dipanggil Rosulullah, yang saat itu beliau tetap tegar di medan peperangan bersama beberapa sahabat, sedang tentara-tentaranya yang lain melarikan diri.

Sesungguhnya Allah subhanahu wata’ala telah mengajarkan kepada kita untuk selalu mengaitkan setiap sebab dengan akibatnya; menjadikan sebab menghasilkan musabab (akibat). Seperti api yang mempunyai sifat membakar, maka tidak akan terjadi pembakaran tanpa api. Allah subhanahu wata’ala telah menciptakan manusia kemampuan untuk melakukan sesuatu. Begitu pula Allah subhanahu wata’ala telah memberikan pilihan kepada manusia untuk memilih jalan yang dikehendakinya. Dia bisa makan ataupun berjalan kapan saja dia mau. Dia belajar kemudian mengerti/paham; dia membunuh kemudian dikenai sanksi (qishash); dia meninggalkan jihad akibatnya menjadi hina; dia meninggalkan usaha mencari nafkah akibatnya menjadi miskin. Karena itu tidak ada al-Qadariyah al-ghaibiyah, baik dalam realitas kehidupan ini ataupun dalam syariat islam.

Adapun masalah qadha’ dan qadar sama sekali tidak ada kaitannya dengan ide al-Qadriyah al-ghaibiyah di atas, sebab yang dimaksud qadha’ adalah semua perbuatan atau kejadian yang dilakukan, atau menimpa manusia dengan terpaksa (tidak dapat dijangkau/dikendalikan oleh manusia). Misalnya, manusia melihat dengan mata, bukan dengan hidung; mendengar dengan telinga, bukan dengan mulut; dia tidak memiliki kuasa atas denyut jantungnya; petir menyambar di langit, gempa bumi yang menggoncang hingga menimbulkan malapetaka bagi manusia; jatuhnya seseorang dari atas genting kemudian menimpa orang lain hingga meninggal. Semua perbuatan tersebut termasuk dalam pengertian qadha’. Karena itu manusia tidak akan dihisab atau disuruh mempertanggungjawabkan atas semua kejadian tersebut di atas. Semuanya ini juga tidak ada kaitannya dengan perbuatan manusia yang bersifat ikhtiyariyah (atas kehendaknya sendiri).

Sedangkan qadar adalah khashiyyat (kasiat/karakteristik) benda yang menghasilkan sesuatu atau mengakibatkan terjadinya sesuatu. Misalnya kemampuan membakar yang dimiliki oleh api; kemampuan memotong yang dimiliki pisau; naluri mempertahankan jenis yang dimiliki manusia; dan lain-lain.

Namun demikian, semua khashiyyat tersebut tidak mampu melakukan perbuatan kecuali dengan adanya pelaku yang menggunakan khashiyyat tersebut. Maka kalau seseorang melakukan sesuatu atas kehendaknya sendiri, berarti bertindak sebagai pelaku adalah manusia itu sendiri, bukan qadar yang ada pada sesuatu yang dia manfaatkan. Sebagai contoh, jika seseorang membakar rumah dengan api, maka orang itulah yang dikatakan sebagai pembakar. Jadi, pelakunya bukan api yang mempunyai khashiyyat tadi. Dengan begitu dia akan dimintai pertanggungjawaban atas perbuatan membakar tersebut. Sebab, dialah yang telah memanfaatkan qadar (khashiyyat) yang dimiliki oleh api, lalu melakukan sesuatu menurut kehendaknya sendiri.

Jadi, qadar tidak mampu melakukan perbuatan tanpa adanya pelaku. Begitu pula qadha’, tak ada kaitannya dengan perbuatan manusia yang bersifat ikhtiyariyah (bebas/pilihan). Dengan demikian, keduanya (qadha’ dan qadar) tidak ada hubungan dengan perbuatan manusia yang bersifat ikhtiyariyah. Begitu pula tidak ada kaitannya dengan nizham al-wujud (hukum alam) dari segi kekuasaannya terhadap manusia, namun keduanya merupakan hukum alam yang berjalan sesuai dengan ketentuan yang telah diciptakan Allah subhanahu wata’ala bagi alam semesta, manusia dan kehidupan. Demikian pula, manusia bisa memberikan pengaruh dalam mencari nafkah untuk hidup atau perjalanan hidupnya. Dia bisa pula meluruskan penguasa yang zalim, atau memberhentikannya. Dia juga bisa mempengaruhi setiap perbuatannya yang tergolong dalam perbuatan yang bersifat ikhtiyariyah. Karena itu, ide al-Qadriyah al-ghaibiyah ini tak lebih merupakan salah satu bentuk khurafat dan khayalan belaka.

(sumber: Fikrul Islam (Bunga Rampai Pemikiran Islam), bab Qadriyah Ghaibiyah (hal. 122-126), Muhammad Ismail, Al Azhar Press, cetakan 1: Ramadhan 1432H | Agustus 2011M)

3 thoughts on “Qadriyah ghaibiyah…

  1. ochin sebenernya kalau gempa bumi, banjir dll apakah memang takdir/ kehendak Allah SWT atau semua itu karena ulah manusia ?

  2. Inilah Ane yang mau ikut berpartisipasi nongkrong, ngunjungin setia dan berkomentar.. Hehehehe..😛

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s