Pengalaman

Kena kasus tilang…

Kala itu hari Jum’at pagi pekan keempat bulan Juni 2012, sekitar pukul 08:00 WIB, saya sudah berada dalam barisan antrean loket pendaftaran sidang tilang (tindakan pelanggaran lalu lintas) di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan yang berada di Ampera. Pengalaman pertama nih. Saat itu paling tidak ada dua ratusan orang (tersangka?) yang mengantre untuk mendapatkan nomor urut sidang. Dan saat itu saya dapat nomor antrean 142 dengan menolak beberapa tawaran “nitip sidang” dari beberapa calo. Ini sedikit barang buktinya:

Bukan tanpa sebab saya berkunjung ke PN Jaksel hari itu. Berawal dari 4 hari sebelumnya, saat saya kesiangan berangkat ke tempat kerja di RSB (Rumah Sakit Bersalin) daerah Duren Tiga, Jakarta Selatan. Saat itu saya berangkat dari kantor di daerah Kebagusan, dekat kebun binatang Ragunan, lewat Warung Jati. Saat itu kesiangan, padat sekali jalanan, dan saya tergiur untuk lewat jalur busway. Secara sadar saya salah, namun beberapa pengendara motor yang masuk jalur busway terlalu memikat hati ini untuk ikut masuk jalur busway dari jalur busway SMK 57. Tak dinyana, kenyamanan kami (para tersangka pengendara motor) berkendara di jalur busway harus berakhir. Di balik bus Trans Jakarta yang berhenti di halte Warung Jati tiba-tiba nongol beberapa polisi lalu lintas. Seketika hati ini panik. Bapak-bapak polisi itu menghampiri kami. Kami kena tilang. Saya kena tilang! Tidak ada pikiran untuk bernegosiasi saat itu, karena saya tidak tertarik akan hal tersebut. STNK motor kantor diambil dan ditukar dengan form merah, kemudian saya diinfo untuk datang hari Jum’at ke PN Jaksel di pekan tersebut. Sudah. Saya pun melanjutkan perjalanan ke Duren Tiga. Begitulah.

Kembali ke cerita saat saya di PN Jaksel. Ketika Anda mengalami kasus seperti ini, setidaknya Anda harus bersabar untuk 4 hal. Pertama, sabar untuk tidak terpikat oleh tawaran para calo sidang. Kedua, sabar dalam mengantre di loket pendaftaran sidang. Ketiga, sabar dalam mengantre dan menunggu untuk dipanggil ke ruang sidang. Keempat, sabar dalam mengeluarkan sejumlah uang yang dianggap sebagai konsekuensi atas tindakan pelanggaran yang Anda lakukan. Saat itu saya dikenai sanksi berupa denda sejumlah tujuh puluh ribu rupiah (setara dengan 2 kotak susu untuk ibu menyusui @200 gram di mini market terdekat, dengan uang kembalian sekitar enam ribu rupiah). Kesabaran dalam perjalanan menuju ke/dari pengadilan tidak termasuk dalam 4 kesabaran di area pengadilan.

Sistem antrean saat sidang saya rasa cukup semrawut. Para penunggu sidang (tersangka?) campur baur berdiri di depan pintu ruang sidang 1 (ruang khusus sidang tilang). Suara petugas pemanggil juga kurang keras (tidak menggunakan mikropon dan speaker) dan tidak ada papan tampilan nomor antrean menambah kejenuhan para penunggu sidang (tersangka?). Entah mengapa selalu ada penggembira yang melontarkan lelucon-lelucon pencair suasana di luar ruang sidang.

Saat di ruang sidang, saya hanya dipanggil dan disuruh maju ke hadapan hakim (yang sulit kau percayai bahwa beliau seorang hakim) lalu ditanya, “Apa kesalahanmu?”. Untuk mempercepat proses sidang, tidak direkomendasikan untuk menjawabnya dengan: “Tidak ada Pak Hakim, saya dijebak oleh beberapa polisi utusan Bapak!”, atau “Lihat aja sendiri di form tilang yang ada di tangan Bapak! Buruan deh Pak, jangan berlagak nggak tahu! Bapak dengan birokrasi Bapak yang amburadul ini sudah menyita waktu produktif saya! Sekarang buruan bilang, berapa duit yang harus saya bayar dan berikan segera STNK motor kantor saya!”. Jangan juga menjawabnya dengan kalimat “Kenapa sih Pak, saya selalu salah di mata Bapak?”, dan jawaban-jawaban lebay lain yang semisal. Karena hal itu akan berdampak pada bertambah-lamanya waktu pemanggilan sidang untuk rekan-rekan Anda (sesama tersangka?) yang belum dieksekusi. Anda cukup bilang, “Kesalahan saya adalah menggunakan jalur busway dengan motor saya dan saat itu saya tidak dapat menghindari sergapan polisi-polisi lalu lintas utusan Bapak!”

Setelah membayar sejumlah uang yang dikenakan, STNK motor kantor saya dikembalikan. Oh iya, bagi Anda yang ingin meminta bukti pembayaran sanksi tilang, Anda bisa memintanya saat itu juga untuk meyakinkan uang setoran Anda tidak dikorup. Meski tanda bukti pembayarannya juga tulisan tangan dan birokrasi di tataran atas terbuka kemungkinan untuk dikorup. Juga jangan lupa berdoa agar hal ini adalah yang terakhir terjadi dalam hidup Anda dan keluarga Anda. Ketika keluar dari ruang sidang itu rasanya seperti keluar dari kandang macan (yang tentu ada beberapa macan dewasa di dalamnya), lega sekali.

Akhir kata, demikianlah pengalaman saya saat terkena kasus tilang. Pesan yang ingin saya sampaikan adalah jangan melanggar peraturan lalu lintas, karena yang repot bukan kita sendiri tetapi juga orang lain (kecuali menerobos lampu merah tengah malam saat Anda 101% yakin tidak akan mencelakakan pengguna jalan lain). Kalaupun Anda kena tilang (baik karena kita yang salah atau polantas yang lagi butuh uang sehingga mencari-cari kesalahan Anda) maka disarankan sidang sendiri saja. Karena itu akan meguntungkan petugas parkir pengadilan, atau bahkan penjual minuman dan gorengan di sekitar pengadilan karena Anda haus dan belum sarapan. Juga pengusaha BBM karena perjalanan Anda ke pengadilan butuh BBM. Dengan menghadiri sidang sendiri, Anda juga berhasil melewatkan 1 celah korupsi polantas di lapangan, meski celah-celah pada level di atasnya sangat terbuka lebar (kok jadi su’udzon?). Semoga bermanfaat, terimakasih. Oh iya, berikut beberapa dokumentasi di TKP (sebagai penghargaan Anda sudah membaca sampai akhir, meski bisa saja Anda menscrollnya ke bawah) antara lain:

20 thoughts on “Kena kasus tilang…

  1. Pak polisi itu sebenarnya baik loh dia tuh pengayom masyarakat..???????? Masyarakat yg ky mana yah……….. Iklas aja deh om ochin biar keselnya jadi pahala. ok

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s