Pengalaman

Rekam peristiwa 4 hari dirawat inap…

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah. Teringat bait-bait lirik nasyid berjudul “Muhasabah Cinta” berikut;


Tuhan, baru kusadar
indah nikmat sehat itu
tak pandai aku bersyukur
kini kuharapkan cintaMu

Kesehatan itu mahal! Kalimat tersebut memang tepat dan faktual di era sekarang yang kapitalistik. Ukurannya apa? Kalau bicara kesehatan, takaran umumnya ya biaya berobat di rumah sakit berbayar.

Pada akhir Maret 2013 lalu, saya tumbang dan dirawat inap di salah satu rumah sakit swasta di daerah Pondok Labu, Jakarta Selatan. Diagnosanya apa? Menurut ICD (International Classification of Diseases) versi 10 (yang terbaru) saya terdiagnosa: A91, Dengue haemorrhagic fever alias Demam Berdarah Dengue (DBD). Hal ini diperkuat oleh hasil cek darah di lab, bahwasanya kadar trombosit saya di bawah nilai normal. Gejala sakit kepala di bagian kening dan lemas membuat dokter memvonis saya positif DBD. Lebih lanjut tentang DBD, bisa baca artikel ini.

Yang ingin saya bagikan dalam kesempatan kali ini utamanya bukanlah tentang kesehatan, namun beberapa rekam peristiwa selama 4 hari saya dirawat di rumah sakit. Apa itu? Bila Anda menebak tentang sesuatu yang mistis atau horor, mohon maaf, Anda salah! Beberapa peristiwa yang masing-masing mengandung hikmah dan pelajaran apabila saya dapat menelaahnya.

Hari ke-1
infusKenyataan yang harus saya sadari, ini adalah pertama kalinya saya dirawat di rumah sakit selama kurun waktu 22 tahun terakhir saya hidup, kalau ndak salah. Kalau pun sakit, hanya sakit yang cukup bisa ditangani di rumah, seperti flu, demam, batuk, sakit perut, sakit mata. Hari pertama dirawat, banyak waktu yang saya habiskan untuk mengingat kembali betapa Allah merahmati nikmat sehat selama ini, yang luar biasa wajib saya syukuri di setiap hela dan hembusan nafas. Hal ini membuat saya banyak mengembangkan senyum ketika sedang dirawat.

Tak hanya saya, ternyata banyak pasien yang terdiagnosa demam berdarah. Di ruangan dimana saya dirawat saja ada 2 pasien. Sebagai informasi, saya dirawat di kamar kelas 3 berkapasitas 4 pasien (4 bed), yang semuanya terisi saat pertama kali saya masuk. Bapak yang bednya di depan saya sudah boleh pulang di hari pertama saya dirawat. Kurang tahu diagnosanya apa, belum sempat ngobrol. Di samping bapak tersebut, pasien remaja laki-laki yang juga terdiagnosa DBD. Sedang di samping saya, seorang bapak yang menunggu cuci darah besok paginya.

Hari ke-2
Pagi menjelang, bapak yang dirawat di sebelah saya akhirnya keluar ruangan untuk dilakukan hemodialisa, atau yang familiar disebut cuci darah. Tak berapa lama, bapak dari pasien remaja laki-laki yang juga terdiagnosa DBD di ruangan itu menghampiri saya. Beliau bertanya, saya sakit apa? Saya jawab, demam berdarah.

Lalu beliau membalasi dengan nasehat, “Demam berdarah? Orang kalau demam berdarah itu nggak boleh banyak gerak. Anak saya aja di tempat tidur terus. Dokternya bilang kalau kencing pake pispot. Terus ditampung. Nanti air kencingnya diambil sama perawatnya. Emang Mas nggak ada yang nungguin? Kok dari kemarin saya perhatiin bolak-balik ke kamar mandi sendiri. Orang kalau demam berdarah kan bawaannya pengen kencing mulu.” Saya jawab, “Enggak, Pak. Istri saya di Banten, nggak bisa ke sini karena anak saya baru 9 bulan, jadi nggak bisa ke sini. Di sini nggak ada saudara.”

angkakBeliau melanjutkan, “Kalau bisa harus ada yang nungguin, Mas! Trus ini, ada biji angkak, cepet naikin trombosit. Anak saya saya minumin air rebusan angkak, alhamdulillah cepet naiknya.” Seraya menyodorkan biji angkak yang dibungkus plastik. “Tapi jangan sampai ketahuan dokter ya!”, beliau berpesan. “Wah, terima kasih, Pak. Trus untuk anak Bapak?”, saya bertanya. Dengan nada bersemangat, beliau menjawab, “Udah, kata dokter hari ini sepertinya anak saya boleh pulang. Tinggal nunggu kunjungan dokter aja ini.” Dan setelah kunjungan dokter, anak bapak tersebut diizinkan pulang. Siang itu, mereka pun pulang. Dan kelanjutan soal biji angkak pemberian bapak tadi, hanya saya simpan. Saya berterima kasih atas perhatian beliau.

Sore menjelang. Bapak sebelah yang tadi hemodialisa sudah selesai. Dan dibolehkan pulang. Sore itu pun, beliau pulang. Sehingga di ruangan tersebut hanya tersisa saya, seorang diri. Malam hari yang sunyi itu pun saya nikmati untuk beristirahat, setelah 2 teman kantor selesai menjenguk.

Saya terbangun, ketika jam menunjukkan sekitar pukul 11 malam. Ada pasien masuk, seorang bapak yang terdiagnosa DBD juga.

Hari ke-3
Pagi menjelang, kini di ruangan ada 2 pasien, saya dan bapak sebelah saya yang juga DBD. Sarapan datang. Ada beberapa alasan yang membuat saya dengan sigap dan lahap selalu menghabiskan makanan yang diberikan rumah sakit. Yaitu pesan dari dokter kantor dan atasan saya, “Kalau DBD itu biar cepet sembuh, makan yang banyak, minum yang banyak!” Juga pesan istri saya, “Kanda cepet sembuh ya! Makan yang banyak!”, sambil menyelipkan ungkapan kesal karena tidak saya izinkan untuk datang menjenguk saya di rumah sakit.

Selain itu, saya selalu teringat ucapan simbok saya ketika beliau sakit. Simbok selalu berusaha untuk sembuh dengan banyak makan dan istirahat, seraya berkata, “Aku kudu mari! Lek aku loro, sopo sing ngopeni anak-anakku?” (Saya harus sembuh! Kalau saya sakit, siapa yang mengurusi anak-anak saya?). Kalimat itulah yang selalu terngiang ketika saya sakit. Saya harus sembuh! Kalau saya sakit, bagaimana dengan istri dan anak saya? Saya harus sembuh!

Pagi menjelang siang, ada lagi pasien masuk. Di sinilah peristiwa itu bermula. Peristiwa apa? Izinkan saya kembali bercerita. Pasien tersebut adalah anak muda, seusia saya, Hariyanto namanya. Laki-laki, belum genap 23 tahun. Dia adalah pasien rutin hemodialisa di rumah sakit tersebut. Sudah barang tentu bisa ditebak, dia bermasalah pada ginjal. Ibunya bercerita kepada saya, ini adalah kunjungan anaknya yang ke-16 untuk hemodialisa. Dia masuk dalam kondisi kritis! Perawat menyarankan untuk dirawat di ruang HCU, namun pihak keluarga memutuskan untuk dirawat di ruang inap biasa.

Yang saya dengar dari perawat, Hariyanto terlambat dari jadwal rutin hemodialisa. Karena itu kondisinya memerlukan 2 kantong darah untuk ditransfusikan kepadanya. Dalam hal ini saya kurang mengerti penjelasan secara medis. Dari waktu masuk ruangan, dia sering mengerang kesakitan. Sempat juga dia tak sadarkan diri sesekali waktu, yang menyebabkan keluarganya menangis di ruangan itu. Saya pun turut tegang mendengar hal ini. Sore menjelang, akhirnya kabar datangnya petugas pengambil darah dari PMI terdengar. Dia pun mendapat tranfusi darah yang dibutuhkan. Tak lama kemudian, jadwal hemodialisa di rumah sakit tersebut dibuka, akhirnya Hariyanto dibawa ke ruang hemodialisa. Ruangan pun mulai tenang. Dan bertambah sepi ketika bapak yang dirawat di sebelah saya pindah kamar ke kelas 2.

Kesunyian ruangan riuh terpecah tatkala pasien bernama Hariyanto itu kembali bersama tangisan keluarganya. Ya, kondisi Hariyanto makin kritis. Ia tak sadarkan diri. Deru tangis keluarganya memenuhi ruangan. Ternyata hemodialisanya terpaksa dihentikan sebelum selesai, karena Hariyanto kejang-kejang. Itu yang saya dengar dari keluarganya. Saya yang sendiri di seperempat ruangan tersebut ikut merasakan suasana sedih itu. Bapak dari Hariyanto tak henti-hentinya memanggil nama Hariyanto dengan maksud menyadarkannya. Diikuti dengan kalimat istighfar yang diharapkan diikuti oleh Hariyanto. Alhamdulillah, setelah beberapa lama, hariyanto siuman dan sesekali bersuara. Suasana mulai kondusif, meski banyak orang yang datang menjenguk Hariyanto.

Malam semakin larut, namun mata ini seketika hilang kantuk saat mendengar kalimat yang kurang lebih berbunyi, “Bapak, Ibu, mohon maaf sebelumnya. Saya rasa Bapak dan Ibu harus memaafkan semua kesalahan Nak Hariyanto. Bapak dan Ibu sudah saatnya mengikhlaskan anak Bapak dan Ibu.” Langsung saja suara tangis dari sang ibu terdengar dan diikuti suara tangis saudara yang lain. Air mata saya seketika jatuh beberapa tetes. Kalimat tersebut dilontarkan oleh seorang bapak, yang saya yakin merupakan tokoh di sekitar tempat tinggal Hariyanto. Kondisi Hariyanto saat itu tak sadarkan diri.

Suasana kembali pecah. Ya, kali ini tangisan yang lebih riuh dari sebelumnya. Innalillahi wainna ilaihi roji’un. Allahummaghfirlahu warhamhu waafini wafuanhu. Seorang perawat berkata bahwa pasien Hariyanto telah meninggal, tercatat pukul 02:13 WIB (menitnya lupa-lupa ingat). Beberapa perawat terdengar meminta bantuan keluarga laki-laki dari almarhum untuk membantu membersihkan kotoran Hariyanto. Dengan tetap terdengar suara isak tangis keluarganya. Suasana haru kental terasa. Terlebih dengan jarak sedekat itu, peristiwa ajal menjemput seorang pemuda, seusiaku, di ruangan yang sama denganku dirawat! Ya Allah. Malam yang begitu panjang, saya berujar dalam hati.

layu

Perlu sekitar 2 jam lebih untuk membersihkan jenazah hingga siap dibawa pulang oleh keluarganya. Jenazah pemuda seusia saya itu pun dibawa pergi. Pergi bersama suara-suara haru keluarganya. Saya kembali seorang diri lagi di ruangan. Beberapa perawat datang dan membuka tirai dimana saya berbaring. “Pak? Mau pindah kamar sebelah? Biar nggak sendirian!”, tawar seorang perawat. “Oh, enggak apapa, Mas. Saya di sini aja”, saya menolak dengan tersenyum. Ruangan kembali sunyi. Dan saya merasa sangat sehat karena setelah peristiwa itu, betapa terasa nikmat nafas yang masih lancar berhembus dalam raga ini. Kembali, Allah menunjukkan langsung nikmat usia yang harus saya syukuri.

Hari ke-4
Tak seperti hari-hari kemarin, dokter penanggung jawab perawatan saya melakukan visite pagi hari. Dan mengabarkan kabar baik, saya boleh pulang, karena trombosit sudah naik. Alhamdulillah.

Demikianlah rekam peristiwa 4 hari saya dirawat inap. Jaga kesehatan, dan ingatlah untuk terus bersyukur. Karena nikmat yang utama adalah nikmat iman, islam dan kesehatan. Gunakan masa mudamu sebelum masa tuamu, masa sehatmu sebelum masa sakitmu, terutama masa hidupmu sebelum matimu. Terima kasih, semoga bermanfaat. Maaf bila postingan kali ini teramat panjang.

3 thoughts on “Rekam peristiwa 4 hari dirawat inap…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s