Ma'isyah

Sebuah nasehat dari pantri…

Nasehat bisa lahir dari mana saja dan oleh siapa saja. Semakin lebar jangkauan pendengaran kita, semakin besar potensi lahirnya nasehat. Beberapa waktu lalu, sebuah nasehat dari pantri menghampiri.

Seorang penjaga pantri alias office boy di kantor, yang setiap malam mengambil gelas-gelas di tiap ruangan dan tiap meja untuk dicuci, beliau dikenal sebagai pekerja yang rajin dan menikmati setiap pekerjaannya. Dikenal sebagai staf OB yang periang dan membaur dengan staf lainnya, beliau memang gemar berbicara dan bercanda. Entah kalimat-kalimat yang diucapkannya memancing gelak tawa ataupun ejekan, beliau sendiri tidak mempermasalahkannya. Ceplas ceplos merupakan sifat bawaan beliau, tak membedakan siapa yang diajak bicara.

Ketika itu, sedang berkumpul kami, para staf di ruang rapat yang memang sudah menjadi markas sebuah anak perusahaan yang kami berada di dalamnya. Saling bertukar wajah kusut dan keluhan kala itu membuat beliau, sang OB yang terkenal tak pernah menampakkan wajah sedih itu membuka dialog baru. “Cintai pekerjaanmu!” Begitulah kalimat perintah sekaligus kalimat pembuka bagi sebuah dialog baru. Kami yang berada dalam ekosistem dialog baru tersebut pun langsung fokus memandang beliau dan memberikan apresiasi. Beliau melanjutkan kalimatnya dengan nasehat yang ringan, bahwa dalam bekerja, kita harus menghadirkan segenap kemampuan termasuk perasaan mencintai pekerjaan tersebut. Betapapun hasil apresiasi yang didapat di akhir bulan, itu urusan belakang, tandasnya.

Love your job

Seketika benak ini seperti disibukkan dengan pecahan-pecahan ingatan yang memiliki korelasi dengan nasehat itu. Pecahan pertama adalah kalimat mutiara yang ditempel di dinding ruang kerja apoteker sebuah rumah sakit bersalin yang merupakan klien perusahaan kami, yang kurang lebih berbunyi: “Orang yang mengerjakan pekerjaan melebihi porsi tugasnya, cepat atau lambat ia akan mendapatkan hasil dari pekerjaan lebihnya”.

Pecahan kedua adalah sebuah ketentuan bahwa apabila kita berbuat baik, maka sesungguhnya perbuatan baik itu adalah untuk diri kita sendiri. Bila perbuatan baik yang kita lakukan dalam bekerja belum mendapatkan apresiasi yang pantas dari sang pemberi kerja, maka apresiasi yang belum terbayar tersebut adalah tabungan bagi masa depan. Tentunya tabungan kebaikan, ya! Dan sadarkah bahwa ketentuan tersebut adalah firman Allah dalam QS. Al Isra [17:7].

Dan, hasil akhir dari dialog malam itu adalah sebuah pertanyaan besar terhadap diri saya sendiri, “Apakah saya sudah mencintai pekerjaan saya?”

Oh iya, sebelum tulisan ini diterbitkan, saya melihat beliau asyik bergoyang sambil melakukan rutinitasnya mencuci piring di area dapur kantor. Tampak begitu menikmati pekerjaannya.

4 thoughts on “Sebuah nasehat dari pantri…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s