Pengalaman

Momen dibuntutin si kecil…

Wahai ayah! Pernahkah Anda merasa bahwa si kecil terus mengikuti Anda kemana pun berada? Pernahkah Anda merasa bahwa gerak-gerik Anda tak pernah luput dari pengawasan mata anak laki-laki Anda? Pernahkah jagoan kecil Anda menaruh perhatian penuh pada tingkah laku dan perbuatan Anda saat Anda berada di rumah? Dan dapat dipastikan, saat itu pula si kecil selalu berusaha meniru dan mengikuti setiap gerakan dan aktifitas yang Anda lakukan! Momen inilah yang selama 3 bulan terakhir saya rasakan ketika di rumah. Bahkan sangat jelas terasa.

Sebagai seorang ayah yang newbie, momen dibuntutin si kecil adalah momen yang menceriakan dan menarik. Pasalnya, ketika Anda sedang dibuntuti si kecil, ada semacam perasaan diperhatikan oleh anak kita. Ada semacam kebanggaan, “Wah, anakku begitu sayang dan mencintaiku!” Rasanya begitu menyenangkan — setidaknya bagi saya — menjadi role model utama si kecil. Saya belum tahu pasti, apakah setiap anak seperti itu kepada ayahnya, ataukah hanya anak laki-laki saja? Atau hanya anak pertama saja yang merasa tertarik mengikuti ayahnya kemana pun berada di usia emasnya? Yang jelas, momen ini terjadi pada mujahid kecil kami, Hamzah Abdullah al-Mustanir yang merupakan anak pertama kami, laki-laki, yang kini berusia 1 tahun 10 bulan (22 bulan).

Hamzah dan abi

Ketika saya ke kamar, dengan langkah kecilnya berlari mengikuti saya ke kamar. Saat duduk bersiap menyantap sarapan pun, ia duduk dengan manis memegang sendok dan siap “mengeker-eker” sarapan kami. Bahkan ketika saya beranjak mandi dan masuk ke kamar mandi, ia pun ingin masuk ke kamar mandi. Dulu sih nangis dan merengek ingin ikut masuk, namun setelah dijelaskan oleh bundanya, Hamzah kini hanya tersenyum dan melambaikan tangannya (dada) kepada saya saat saya masuk ke kamar mandi dan menutup pintu. Selalu membuat saya tersenyum dan kangen bila mengingatnya di sela-sela jauh darinya.

Ketika saya merangkak dengan maksud bermain menjadi sapi yang siap ditungganginya, ia justru ikut merangkak dan bersuara “mooo”. Padahal dulu, ketika saya mengambil posisi merangkak, Hamzah dengan sigap dan gelak tawa “nangkring” di atas punggung saya. Saya begitu kaget ketika suatu hari, saat bercengkerama dengan anak dan istri, Hamzah mengambil posisi merangkak, kemudian kepala ia sandarkan di bawah seperti hendak jungkir balik (roll depan). Dan saat saya tanya hendak apa si Hamzah, bundanya menjawab, “Hamzah mau roll depan, abi!” Seketika saya teringat, beberapa waktu lalu pernah memeragakan roll depan di hadapan Hamzah di tempat tidur. Saya heran sekaligus takut, bila nanti terjadi cedera pada Hamzah saat gagal melakukannya. Itu lah sebagian kecil tindakan saya yang Hamzah tiru dan lakukan.

Meski demikian, tak hanya tingkah laku saya saja yang ditirunya. Hamzah juga beberapa kali menirukan sang bunda, bagaimana ketika bundanya menyapu, mengepel lantai, mencuci piring, membaca buku, bahkan memetik kacang panjang untuk bahan sayur pun Hamzah tiru. Namun tetap waspada, benda-benda berpotensi bahaya seperti pisau dan colokan listrik diusahakan untuk jauh dari jangkauannya.

Hamzah membaca

Momen dibuntutin si kecil inilah yang saya rasa perlu dimanfaatkan sebagai momen menyisipkan pendidikan, adab dan akhlak yang baik kepada si kecil. Mengapa? Sudah jelas, karena pada saat itu, sang anak menaruh perhatian penuh kepada kita selaku orang tua dan teman dekatnya, yang saat itu pula ia berusaha mengamati, merekam dan melakukan apa yang ia dapatkan dari aktifitas membututi kita! Lebih baik lagi bila kita dengan masif memberikan informasi kenapa dan bagaimana melakukan sesuatu hal.

Momen inilah yang kami manfaatkan untuk membiasakan Hamzah gosok gigi, malu bila auratnya dilihat orang lain (yang bukan mahrom), pipis di kamar mandi (karena mulai berusaha meninggalkan popok serap), memulai aktifitas dengan membaca basmallah, memakai sandal bila keluar rumah, dan lain-lain. Meski semua itu perlu repetisi (pengulangan) berkali-kali dan tanpa lelah.

Ini sekaligus mempertegas peran kita sebagai orang tua, bahwa kita memiliki andil besar dalam pendidikan anak-anak kita. Terutama istri yang dalam islam dijuluki sebagai madrasah (sekolah) pertama anak-anaknya. Untuk itu bekal ilmu dan kesholihan orang tua amat penting dalam membentuk kepribadian sholih seorang anak. Ini pula yang menjadi motivasi bagi setiap diri kita untuk terus berusaha menjadi teladan yang baik. Karena keluarga dan lingkungan yang sholih berpotensi besar dalam melahirkan generasi yang sholih. Terlebih bila masyarakat suatu negeri memiliki pemikiran, perasaan dan peraturan islam, maka generasi cemerlang dengan kepribadian islam akan mudah dilahirkan. Inilah yang tak boleh lepas dari perjuangan kita. Yakni menegakkan syariat islam demi terbentuknya masyarakat yang memiliki pemikiran islam, perasaan islam dan peraturan islam, tentunya dalam bingkai negara khilafah islamiyah sesuai dengan metode kenabian (ala minhajin nubuwwah).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s