Kalbu

Sejatinya, hari raya itu…

Meski momen idul fithri telah berlalu, namun semoga postingan yang bermuatan forward-an nasehat ini masih mendapatkan ruang di hati pembaca sekalian. Sebelumnya, saya pribadi ingin mengucapkan taqabalallahu minna waminkum, semoga amal ibadah kita di Romadhon lalu diterima oleh Allah. Dan yang tak kalah penting, semoga semangat Romadhon masih menjadi teman setia saat ini dan mendatang, aamiin.

Sudah mafhum, bila kaum muslim ditanya tentang hari rayanya, pastilah Idul Fithri dan Idul Qurban atau Idul Adha menjadi jawaban. Mungkin beberapa lagi menambahkan hari Jumat sebagai tambahan. Ya, memang benar. Hal ini akan berbeda, bila kita bertanya kepada Imam Malik ra. Karena beliau dalam kitabnya telah menyebutkan bukan hanya 2 atau 3 hari raya, tapi 5! Apa saja kelima hari raya tersebut?

5 hari raya Pertama, disebutkan oleh beliau, bahwa hari raya kaum muslim adalah hari dimana tidak ada catatan dosa pada hari itu. Artinya, bila suatu hari tidak ada satu maksiat pun yang kita lakukan, maka hari itu adalah hari raya. Pertanyaannya adalah, sudahkah kita? Tidak perlu jauh-jauh, hari ini saja. Mulai dari bagun tidur sampai detik ini, apakah hari ini adalah hari raya? Hmm..

Hari raya yang kedua adalah, hari dimana seorang mukmin meninggal dengan khusnul khotimah, atau akhir yang baik. Dimana ia membawa keimanan serta ketakwaannya di akhir hayatnya, maka hari itu adalah hari raya. Bagi pembaca yang tentu belum pernah merasakan kematian, sudahlah pasti belum mendapatkan hari raya yang satu ini.

Hari raya yang ketiga, adalah hari dimana seorang mukmin melalui titian shiroth kemudian selamat dari huru hara kiamat.

Yang keempat, adalah hari ketika seorang mukmin memasuki surga. Sudah barang tentu, hari raya yang satu ini juga belum kita alami.

Dari semua hari raya yang telah disebutkan, sudahkah kita mendapatkannya? Bila kita runut ke belakang, mulai dari hari raya yang keempat, yakni hari dimana seorang mukmin memasuki surga tidak mungkin bisa kita raih, bila kita tidak bisa mendapatkan hari raya yang ketiga, selamat ketika melalui titian shiroth.

Lalu, apakah bisa kita melalui titian shiroth tanpa mendapatkan hari raya yang kedua, yakni meninggal dengan khusnul khotimah? Tentu tidak! Demikian pula dengan hari raya yang kedua, kita tidak akan bisa meraihnya tanpa meraih hari raya yang pertama, meraih hari dimana tak ada satu pun catatan dosa yang kita lakukan. Disadari atau tidak, dari keempat hari raya tadi, hari raya pertamalah yang berpotensi kita raih saat ini.

Dari sini mungkin ada pembaca yang bertanya-tanya, bukankah di awal disebutkan ada 5 hari raya menurut Imam Malik ra? Memang benar. Dan hari raya yang kelima itu adalah hari dimana seorang mukmin bertemu dan melihat wajah Allah Subhanahu wata’ala. Hari dimana tabir hijab antara Allah dengan hambaNya di surga telah disingkap. Bukankah ini adalah kerinduan terdalam seorang muslim? Kerinduan bertemu dan melihat wajah Allah. Dan yang lebih nikmat lagi, adalah ia bukan hanya merindukan perjumpaan dengan Allah, namun Allah juga rindu untuk berjumpa dengan hambaNya yang bertakwa. Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang merinduMu dan Engkau pun merindukan kami, aamiin. Perjumpaan ini tentu tidak akan pernah kita dapatkan bila kita tidak bisa meraih keempat hari raya sebelumnya.

Mengingat langkah awal meraih semua hari raya tersebut adalah hari raya yang pertama, yakni meraih hari tanpa amalan dosa, maka inilah yang harus kita upayakan terus menerus untuk saat ini. Apa kuncinya?

Kuncinya adalah takwa.

Karena takwa adalah benteng dari perbuatan yang berdampak dosa, maksiat, azab, dan lain-lain. Pertanyaan berikutnya, apakah kita bisa menjaga ketakwaan diri sendiri setiap hari? Memang bisa, namun tidak mudah dan tidak sempurna. Hal ini karena lingkungan yang tidak mendukung.

Maka kita sejatinya butuh jama’ah dakwah untuk menjaga ketakwaan kita bersama-sama. Dimana orang-orang yang berada dalam jama’ah tersebut saling menasehati dalam kebaikan dan kesabaran. Karena setiap diri dari kita butuh yang namanya sahabat. Tentu sahabat yang juga memiliki tekad untuk saling meningkatkan ketakwaan sahabatnya.

Kita juga butuh negara yang juga bisa menjaga ketakwaan warganya. Dimana negara tersebut menegakkan syariat Allah, menegakkan hudud, serta memiliki pemimpin yang berkompeten karena berpegang teguh kepada islam. Tak lain adalah daulah Khilafah Rosyidah ala minhajin nubuwah. Maka dari itu penting untuk kita senantiasa berjuang menegakkannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s