1KA25-ISD-TUGAS-13102014-1C114899-NIKOARWENDA

Cari judul film atau sinetron televisi yang mengandung unsur/masalah sosial yang terjadi di masyarakat!

  • Beri ulasan film tersebut!
  • Beri penjelasan pribadi tentang isi film tersebut!

Jawab:

Judul Film: Alangkah Lucunya (Negeri Ini)

Tahun produksi: 2010
Screenplay by: Musfar Yasin
Directed by: Deddy Mizwar
Manufactured by: Zain Zairin
Production: Citra Sinema
Cast Starring: Reza Rahadian, Deddy Mizwar, Slamet Rahardjo, Jaja Mihardja, Tio Pakusadewo, Asrul Dahlan, Ratu Tika Bravani, Rina Hasyim, Sakurta Ginting, Sonia

  • Ulasan film:

    Film ini menceritakan seorang anak muda lulusan S1 Managemen yang bernama Muluk sebagai seorang yang baru saja lulus kuliah dan berupaya mencari kerja berbekal ijazah serta surat kabar yang memuat berbagai lowongan kerja. Namun semua lamaran tersebut tidak membuahkan hasil.

    Semangat Muluk dalam mencari kerja tidak pernah berhenti, akhirnya melihat sekelompok anak yang melakukan aksi copet di sebuah pasar. Dengan geram Muluk meringkus anak tersebut dan mengancam melaporkannya kepada polisi. Beberapa waktu kemudian, di sebuah warung Muluk bertemu dengan Komet. Komet akhirnya membawa Muluk ke markasnya dan memperkenalkan dengan Jarot yang menjadi pemimpin para pencopet. Di sisi lain, ayah Muluk yang bernama Pak Makbul berdebat serius dengan Haji Sarbini yang merupakan calon besannya. Muluk akan dijodohkan dengan Rahma. Keduanya terus saja berdebat walaupun berusaha dilerai oleh Haji Rahmat, seorang tetua dalam bidang agama Islam di daerah tersebut.

    Perkenalan Muluk dan Jarot menghasilkan kesepakatan bahwa Muluk akan bekerja bersama dengan para pencopet tersebut untuk mempraktikkan ilmu manajemen yang dimiliki dengan mengelola keuangan mereka. Ini ditawarkan oleh Muluk dengan imbalan 10% dari hasil copet mereka. Tujuan Muluk adalah agar hasil copet mereka dapat dikelola secara profesional dan akhirnya dapat dijadikan sebagai modal usaha agar tidak perlu menjadi pencopet lagi. Secara umum, kelompok pencopet ini dibagi menjadi 3, yaitu kelompok mall yang terdiri atas pencopet yang berpakaian paling bagus, kelompok pasar yang berpakaian paling kumal, dan kelompok angkot yang berpakaian sekolah. Setiap kelompok memiliki pemimpin dan metode kerja sendiri-sendiri. Muluk pun menyadari bahwa anak-anak ini juga butuh pendidikan, dan untuk mengajar mereka, Muluk meminta bantuan Samsul, seorang Sarjana Pendidikan pengangguran yang sehari-hari hanya bermain kartu saja agar mempraktikan apa yang telah diperoleh dari kuliahnya dulu.

    Sebuah permasalahan kecil terjadi saat ayah Muluk bertanya mengenai pekerjaannya. Dengan terpaksa Muluk menjawab bahwa pekerjaannya adalah di bagian Pengembangan Sumber Daya Manusia. Beberapa waktu kemudian, Haji Rahmat meminta Muluk agar dapat mempekerjakan anaknya, Pipit, karena sehari-hari Pipit hanya mengurusi kuis-kuis di televisi dan mengirim undian berhadiah kemana-mana. Muluk-pun menyanggupi hal tersebut dan mengajak Pipit untuk mengajar agama bagi anak-anak pencopet.

    Rasa penasaran pun muncul dari Pak Makbul ayah Muluk, Haji Rahmat ayah Pipit, dan Haji Sarbini calon mertua Muluk. Mereka pun bersikeras hendak melihat tempat kerja Pipit, Muluk dan Samsul. Mereka amat terkejut sewaktu mengetahui bahwa anak-anak mereka rupanya bekerja untuk para pencopet.

    Pertentangan batin yang hebat segera terjadi di hati mereka yang juga mempengaruhi Muluk, Pipit, dan Samsul. Mereka akhirnya berhenti mengajari anak-anak itu. Setalah itu, Jarot memberikan pengarahan kepada anak-anak itu tentang bagaimana mereka seharusnya mencari uang dengan uang halal. Golongan copet pasar akhirnya sadar dan mereka berubah profesi menjadi pedagang asongan, golongan mall dan angkot tetap pada profesi mereka yaitu pencopet. Namun, saat golongan copet pasar sedang berdagang di jalan raya tiba-tiba ada satpot pp yang menertibkan jalanan tersebut. Anak-anak banyak yang tertangkap tetapi pada saat itu. Muluk melihat kejadian itu dan mengaku kepada Satpol PP bahwa dia adalah orang yang menyuruh anak-anak itu mengasong (bos mereka). Sehingga, Muluk pun dibawa pergi oleh Satpol PP tersebut.

  • Komentar pribadi:

    Beberapa permasalahan sosial negeri ini ditampakkan dalam film ini. Permasalahan klasik segala lini yang saling terkait bak efek domino. Mulai dari masalah ekonomi, yakni tidak meratanya distribusi kekayaan, berefek pada timpangnya serapan pendidikan generasi muda bangsa Indonesia, dan yang tak kalah ketinggalan adalah tingkat kriminalitas dan kebobrokan perilaku pemerintah.

    Sebagai generasi muda bangsa dengan kesempatan akses pendidikan yang didapat, kita harus jernih memandang akar persoalan sosial masyarakat ini. Tiap tahun ratusan ribu tenaga terdidik dicetak, namun kebanyakan dari mereka berorientasi mencari pekerjaan dan bergabung dalam perilaku masyarakat hedonis-individualistik, tidak cakap untuk sekedar memperhatikan kondisi masyarakat apalagi turun tangan mengubahnya. Belum lagi betapa banyak yang menjadi beban karena tidak kunjung mendapatkan pekerjaan alias pengangguran. Ini diperparah dengan sistem pendidikan negeri ini yang tidak menanamkan ketajaman berpikir dan responsif terhadap kondisi sekitar. Juga model pergaulan yang tidak diatur dengan norma islam, sehingga fokus belajar terganggu dan kemajuan ilmu serta riset teknologi kurang prestatif.

    Kondisi ekonomi yang sangat timpang juga permasalahan yang besar. Bagaimana mungkin masyarakat mendapatkan kebutuhan dasar dan asasinya — seperti pangan, sandang, papan, pendidikan, kesehatan dan keamanan – bila kemampuan ekonomi mereka tak bisa menjangkau semua itu. Pendidikan dan iman yang lemah dalam kondisi ini turut menyumbang sebab kriminalitas makin naik. Tak cukup sampai di sini, lembaga peradilan pun tak lagi bisa diandalkan. Keadilan yang didapatkan hanyalah adil di mata uang. Maka sulitlah penjahat-penjahat kelas atas berkedok pengusaha ataupun penguasa sulit dihentikan. Benar-benar menambah kerusakan masyarakat.

    Dalam film ini memang tidak ada solusi yang ditawarkan, karena hanya berbagai masalah sosial yang dirangkum menjadi sebuah cerita satir yang benar-benar “lucu”. Karena itu, melalui kesempatan ini saya mencoba tawarkan solusi yang terpancar dari akidah islam serta pembuktian yang nyata beberapa abad silam mampu menerangi dunia dengan cahaya kemuliaannya. Yakni sistem pemerintahan islam, yang dengan segala perangkatnya yang khas menyejahterakan masyarakatnya, baik muslim maupun non muslim, dalam negeri maupun luar negeri.

    Dengan konsep sistem pemerintahan islam, akan mencetak para pemimpin yang amanah lagi kecil celah kecurangan. Dipimpin oleh seorang khalifah dengan kriteria syar’i dan tak terbatas masa jabatannya (bisa diturunkan bila terbukti bermaksiat), tidak digaji namun hanya kebutuhan primer saja yang dijamin, akan mengecilkan celah perebutan jabatan tertinggi tsb.

    Dengan sistem ekonomi islam yang kuat dengan mata uang bertumpu emas dan perak, fokus pada sektor riil, penghapusan praktik riba, akan menggerakkan roda perekonomian dengan kuat dan tahan krisis. Begitu pula dengan pengelolaan kekayaan yang terbagi atas kekayaan negara, dan kekayaan individu, dimana kekayaan negara tidak boleh dikuasai swasta, baik lokal maupun asing. Dikelola penuh oleh negara kemudian dikembalikan kepada rakyat berupa subsidi di bidang pendidikan, kesehatan, ketersediaan pasokan listrik dan energi lain.

    Dengan sistem pendidikan islam yang membekali iman dan ketakwaan kuat dengan akidah islam yang murni, akan menjadi tameng kuat mencegah individu berbuat maksiat atau dosa. Selain akan ikut menjadi kontrol atas lingkungan. Meski demikian, tak serta merta meninggalkan ilmu dunia, justru dengan motivasi keimanan, generasi muda akan terpacu dan berlomba dalam kemajuan teknologi, karena penghargaan yang besar baik dari Tuhannya, maupun dari negara. Mereka pun akan fokus, karena tidak terganggu oleh pergaulan bebas dan tayangan-tayangan maksiat tak bermutu di segala media.

    Dengan sistem peradilan yang benar-benar adil, tak bisa dibeli, tidak hanya tajam ke bawah namun juga ke atas akan membuat pelaku kriminal jera. Sanksi yang berat akan mencegah seseorang berbuat kriminal sekaligus menebus dosa karena terpancar dari kaidah islam. Celah kriminal pun ditutupi oleh kuatnya bekal ketakwaan, kemudahan akses ekonomi — karena terdistribusinya kekayaan secara merata –, akses pendidikan dan kesehatan. Kewibawaan negara pun terjaga dengan sistem politik dalam negeri dan luar negerinya.

    Namun semua itu akan kembali terwujud bila kita segera meninggalkan demokrasi dan mengambil islam dengan sistem khilafahnya sebagai sistem bernegara. Tentu perangkat-perangkat islam tersebut tidak bisa hidup dalam ekosistem demokrasi, karena banyaknya jumlah kepala mengalahkan kualitas isi kepala. Dan sayangnya jumlah kepala yang mendominasi adalah yang tetap ingin mempertahankan suasana yang “lucu” ini. Terima kasih.


Download file:
1ka25-isd-tugas-13102014-1c114899-nikoarwenda.pdf

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s